Tangisan Lirih Selamatkan Nyawa Bayi Laki-laki dalam Ransel di Desa Bantiran

Iklan Home Page

Tabanan, baliwakenews.com – Malam di Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan, biasanya tenang. Angin gunung berhembus pelan, hanya sesekali dipecah suara serangga. Namun, Sabtu malam (8/3/2025) itu, keheningan mendadak buyar oleh tangisan lirih yang nyaris tertelan gelapnya malam.

I Made Dwi Arsana (32), seorang petani, sedang melintas di Jalan Raya Pupuan-Seririt menuju rumah temannya di Desa Subuk. Saat tiba di dekat Pos Polisi Bantiran, ia berhenti untuk menerima panggilan telepon. Saat itulah, di antara semilir angin dan keheningan, ia mendengar suara sayup-sayup yang awalnya ia kira tangisan luwak.

Namun, ada sesuatu yang aneh. Suara itu terus terdengar, rintihannya mengiris malam. Rasa penasaran menguasainya. Dengan langkah pelan, ia menyusuri sumber suara, hingga matanya tertumbuk pada sebuah tas ransel hitam merah yang teronggok di dalam selokan.

Baca Juga:  Bupati Sanjaya Hadiri Uleman Karya Ngenteg Linggih Krama Desa Adat Selabih

Jantungnya berdegup kencang. Apa yang ada di dalam tas itu? Dengan tangan gemetar, ia mendekat dan mencoba membuka sedikit resletingnya. Seketika, tubuhnya menegang ternyata suara tangis itu berasal dari dalam tas!

Panik, ia segera menghubungi dua rekannya, I Nyoman Suranata (55) dan I Made Artana (52), untuk meminta bantuan. Tak lama, mereka tiba dan bersama-sama membuka tas itu.

Teriakan kecil tertahan di tenggorokan mereka. Di dalam tas, tergeletak seorang bayi laki-laki, masih dengan tali pusar menempel di tubuh mungilnya. Kulitnya kemerahan, tubuhnya gemetar, dan yang lebih memilukan, ia dikerubungi semut.

Tak ada suara lain selain hembusan napas ketiga pria itu yang tercekat dalam keheningan. Mereka saling berpandangan, lalu dengan sigap mengangkat bayi tersebut keluar dari tas, membersihkan tubuhnya semampu mereka, dan membungkusnya dengan kain yang mereka bawa.

Baca Juga:  Selasa Besok, Pebulutangkis Piala Presiden Mulai Persiapan TC

“Kami segera melaporkan kejadian ini ke Puskesmas Pupuan 1 dan Polsek Pupuan,” kata I Made Dwi Arsana, masih dengan nada suara yang terdengar gemetar.

Hasil pemeriksaan polisi dan tenaga medis menunjukkan bahwa bayi itu diperkirakan baru lahir sekitar tiga jam sebelum ditemukan. Beratnya sekitar 2,8 kg, masih sangat rapuh untuk menghadapi malam dingin seorang diri.

Namun, ada hal lain yang membuat peristiwa ini semakin misterius. Selain dibungkus kain kamben berwarna ungu, di dalam tas juga ditemukan beberapa barang: enam lembar kertas bertuliskan pelajaran, satu gulung benang abu tua, satu gulung perban putih, dan satu tas belanja polos warna biru.

Benda-benda itu seolah meninggalkan jejak samar. Siapakah ibu dari bayi ini? Mengapa ia memilih meletakkan anaknya di tempat yang sepi, di tengah malam tanpa saksi?

Baca Juga:  Gubernur Koster Ultimatum Stop Penjualan AMDK dibawah 1 Liter, Sanksi Tegas Menanti Produsen dan Distributor yang Langgar

Kapolsek Pupuan IPTU Wayan Sudiarba menyatakan pihaknya telah mengambil langkah-langkah untuk mengungkap kasus ini. “Kami akan menyisir rekaman CCTV di sekitar lokasi dan memeriksa data persalinan di wilayah hukum Pupuan,” katanya tegas.

Bayi yang nyaris kehilangan hidupnya di tengah kegelapan malam kini mendapatkan perawatan di Puskesmas Pupuan 1. Kondisinya perlahan membaik, tubuh mungilnya mulai menghangat dalam dekapan para tenaga medis.

Sementara itu, masyarakat Pupuan masih bertanya-tanya, siapa ibu dari bayi ini? Apakah ia seorang perempuan muda yang ketakutan? Atau ada cerita lain yang belum terungkap?. (Aanbagus)

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR