Tabanan, baliwakenews.com – Di tengah desir angin di perbukitan Bali, suara genta keramat biasanya menjadi penanda kesakralan sebuah upacara. Namun, pada sore yang tenang di Pura Prajapati, Desa Adat Tangguntiti, Selemadeg Timur, suara itu mendadak senyap. Sebuah genta suci yang digunakan dalam ritual keagamaan menghilang dari peti penyimpanannya.
Kehilangan ini bukan sekadar kasus pencurian biasa. Bagi masyarakat Bali, genta bukan hanya alat upacara, melainkan jembatan komunikasi dengan alam gaib. Hilangnya genta dari pura menimbulkan lebih dari sekadar kerugian material, namun membawa pertanyaan besar tentang keseimbangan spiritual.
Kamis sore, 6 Maret 2025, pemangku Pura Prajapati menemukan peti besi penyimpanan genta dalam keadaan terbuka. Gemboknya rusak, dan genta suci yang seharusnya berada di dalamnya telah lenyap.
Kapolsek Selemadeg Timur AKP I Nyoman Artadana mengonfirmasi bahwa dugaan awal menunjukkan pelaku memanjat tembok penyengker pura sebelum mencongkel peti tempat genta disimpan.
“Kami masih melakukan penyelidikan. Sayangnya, tidak ada CCTV di sekitar lokasi, sehingga pelacakan menjadi lebih sulit,” kata AKP Artadana.
Bendesa Adat Desa Tangguntiti segera mengadakan pertemuan dengan pemangku dan warga setempat. Bukan hanya soal pencurian, tetapi juga konsekuensi spiritual dari hilangnya benda sakral ini.
Genta dalam kepercayaan Hindu di Bali bukan sembarang lonceng. Ia dipercaya mampu menjaga kesucian pura, mengusir energi negatif, dan bahkan menjadi perantara komunikasi dengan leluhur. Beberapa genta dianggap memiliki kekuatan mistis karena asal-usulnya yang tidak biasa, dan muncul secara gaib atau diwariskan oleh makhluk halus kepada pemangku tertentu.
“Kalau genta pura hilang, ada yang tidak beres. Bisa jadi ada gangguan spiritual, atau keseimbangan di pura terganggu,” ujar Jero Mangku Ketut Arya, seorang pemangku yang sering memimpin upacara di pura-pura besar di Bali.
Kasus hilangnya genta ini mengingatkan pada peristiwa serupa di beberapa pura lain, di mana setelah kehilangan benda sakral, desa mengalami gangguan seperti gagal panen, wabah penyakit, atau kejadian-kejadian mistis yang sulit dijelaskan.
Warga Tangguntiti kini berharap agar pelaku segera tertangkap dan genta bisa kembali ke tempatnya. Beberapa pemangku menyarankan upacara khusus untuk menenangkan roh-roh pelindung pura. “Kalau memang tidak ditemukan, kita harus melakukan ritual penyucian agar keseimbangan bisa kembali,” kata Jero Mangku Arya.
Kasus ini bukan hanya tentang keamanan pura, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat Bali menjaga warisan spiritual mereka. Genta yang hilang mungkin bisa diganti, tetapi keyakinan bahwa benda itu lebih dari sekadar artefak dan itulah yang membuat kehilangan ini begitu mengguncang.
Sampai saat ini, di bawah langit senja Bali, suara genta yang biasa menggema dari Pura Prajapati masih belum kembali. Dan bagi masyarakat yang percaya, keheningan ini bukan sekadar ketiadaan suara, tetapi sebuah tanda yang harus diterjemahkan dengan hati-hati. BWN-01

































