Denpasar, baliwakenews.com
Kondisi perekonomian Indonesia yang terus memberat dengan sedikitnya 6 juta orang dirumahkan dan kehilangan pekerjaan. Pertumbuhan ekonomi yang minus 0,4 persen, memang membutuhkan tim khusus untuk pemulihan perekonomian. Praktisi bisnis dan keuangan, Prof. Gede Sri Darma,ST., MM, D.B.A., mengatakan sangat tepat pembentukan Gugus Tugas Pemulihan Ekonomi.
Direktur Undiknas Graduate School (UGS) tersebut menambahkan Gugus Tugas Pemulihan Ekonomi harus bergerak cepat, tidak seperti kementerian saat ini yang terkesan lamban sehingga menimbulkan kemarahan presiden Jokowi. “Persoalan sekarang, perekonomian semakin berat dan dapat berujung pada resesi. Tapi para menteri, masih santai dan tidak menyalurkan dana yang dialokasikan. Wajar Pak Jokowi gusar,” ucap Sri Darma, Kamis (23/7) di UGS jalan Waturenggong Denpasar.
Lebih lanjut dikatakan, ego sektoral terlihat kental dari sikap para menteri tersebut. Masing-masing departemen tampaknya masih menunjukkan ego sektoral, sehingga APBN batu terserap nol sekian persen, ada yang 11% dan tidak sampai setengahnya dari anggaran negara. Padahal menurut Sri Darma sekarang sudah Juli, seharusnya sudah setengah lebih anggaran dibelanjakan. “Semua mengedepankan ego sektoral dan dikaitkan dengan politik, kalau penanggulangan pandemi ini berhasil maka partai tertentu yang akan dianggap berhasil. Padahal seharusnya semua bergerak cepat, dalam bidangnya masing-masing agar perekonomian juga bergerak,” tandas Sri Darma.
Ia, mengatakan setuju banget gugus tugas pemulihan ekonomi nasional, dipimpin oleh Erick Thohir (Menteri BUMN). “Mungkin ketua satgas penanggulangan Covid-19 selama ini kurang koordinasi. Padahal program pemulihan dari pandemi Covid-19 ini antara kesehatan dan ekonomi sama pentingnya,” tukasnya.
Penunjukan Erick Thohir dikatakan, sebagai solusi setelah kemarahan presiden akibat dana anggaran negara yang dialokasikan untuk penanggulangan Covid-19 tidak terserap maksimal.
“Saya lihat memang diperlukan orang yang bisa mengkomunikasikan hal tersebut dengan baik. Untuk menggenjot perekonomian, presiden menunjuk Erick Thohir. Karena keberhasilan dalam menghandle sea games dan mengkomunikasikan semua sektor,” ucap Sri Darma.
Lebih lanjut dikatakan, Erick Thohir, terkenal dengan gerak cepatnya dan lobi – lobi yang bagus, sehingga pemulihan ekonomi nasional bisa dengan segera dilakukan. Apalagi kondisi pandemi Covid-19 ini yang berkepanjangan akibat Pemerintah tidak melakukan ‘lock down’, korban terus bertambah sehingga pemulihan ekonomi juga akan semakin lambat.
“Walaupun sekarang pemerintah mengundang investor dan membuka pariwisata, siapa yang mau masuk kalau Indonesia khususnya Bali masih zona merah. Seandainya negara lain sudah aman dan mereka mau berwisata, pasti akan berpikir seribu kali kalau disini masih zona merah,” tukasnya.
Sementara untuk wisatawan domestik, yang katanya dibuka bulan ini, nyatanya obyek wisata masih pada tutup. “Jadi saya rasa masih akan lama untuk membangkitkan pariwisata. Apalagi kalau pasien positif terus nambah, itu tidak akan mungkin,” tandasnya.
Meskipun sejumlah negara termasuk Indonesia mengklaim sudah menemukan vaksin Covid-19, namun belum diuji klinis dan belum mendapatkan pengakuan dari WHO untuk dapat diproduksi massal sehingga masih panjang waktunya.
“Yang lebih mengkhawatirkan buat saya, adalah melihat dampak Covid-19 ini sudah mempengaruhi keamanan. Sejumlah perampok sudah mulai terjadi,” pungkas Sri Darma.*BWN-03





























