Temukus, baliwakenews.com
Anggota MPR RI yang juga Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, Wayan Sudirta, SH. , MH. , gencar mensosialisasi 4 konsensus kebangsaan. Saat sosialisasi yang dilaksanakan di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Sudirta mengajak krama/ masyarakat optimalkan gotong royong.
Dikatakan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, sejatinya sudah ada dalam keyakinan, perilaku dan budaya masyarakat Bali sebagai warisan ratusan tahun lalu. Nilai ini baik sebagai budaya asli di Bali maupun campuran dengan budaya Jawa Kuna yang dibawa dan dikembangkan secara kreatif di Pulau Bali pada jaman Majapahit sampai sekarang.
“Orang Bali yang beragama Hindu percaya pada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut sebagai Brahman, percaya pada Atman yang sepadan dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Juga sangat menyukai kebersamaan (gotong royong, sagilik saguluk salunglung sabayantaka) yang sepadan dengan Persatuan Indonesia,” papar Sudirta Sabtu 27 Mei 2023.
Sementara dalam mengambil keputusan maupun memilih pemimpin, sambung Sudirta, orang Bali senantiasa mengedepankan musyawarah mufakat, sebagaimana sila ke-4 Pancasila. Terkait Keadilan Sosial, orang Bali menerapkan tolong menolong sesuai ajaran Catur Paramita.
Namun, karena tantangan moderen semakin kompleks, Anggota Komisi III DPR RI Wayan Sudirta mengajak masyarakat terus mengoptimalkan kegotongroyongan, agar tidak tergerus oleh budaya modern yang individualistis.
Turut hadir saat sosialisasi, Wayan Ariawan, SH., seorang advokat putra asli Desa Besakih yang duduk juga sebagai Bendahara di PAC PDI Perjuangan Kecamatan Rendang. I Nengah Sindya, Kelian Desa Adat Temukus, dan ratusan Krama dari Desa Adat Tukad Belah dan Desa Adat Temukus.
Dalam sosialisasi yang berlangsung akrab dan penuh tawa, sempat dibentuk Tim Kecil untuk permasalahan jalan rusak di Desa Temukus, yang nantinya dibawa ke Bupati Karangasem, Gede Dana, SH., di Amlapura. Nengah Sindya dipercaya sebagai Koordinator Tim dengan personalia dari unsur Banjar, Teruna-Teruni, Pecalang dan tokoh desa lainnya. Tim direncanakan membawa aspirasi tentang jalan yang rusak, walau berkali direhabilitasi secara swadaya oleh warga setempat.
Empat konsensus dasar kebangsaan Indonesia, termasuk Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, tetap penting disadari dan diperkuat. Karena masih ada ancaman dari kelompok yang ingin mengganti dasar negara, konstitusi serta tatanan sosial politik dan sosial budaya Indonesia, yang sebetulnya sudah tertata sangat bagus.
“Namun, karena nyatanya ada kelompok yang ingin menerapkan ideologi dari agama tertentu dalam sistem bernegara kita, mengganti sistem demokrasi dengan pemerintahan berdasarkan agama tertentu, memperkuat keyakinan dan kesadaran akan pentingnya menjaga Pancasila semakin penting, karena itu juga berarti menjaga 4 konsensus dasar kebangsaan ini dalam kehidupan bangsa Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945,” tandas Sudirta.
Nengah Sindya membenarkan apa yang disampaikan Sudirta di forum sosialisasi tersebut. ‘’Kami memang sampai sekarang masih bergotong royong. Membangun jalan, membangun Pura, termasuk juga melakukan Ngaben, yang dalam waktu dekat ini kami adakan Ngaben bersama, agar biayanya jadi lebih ringan karena dipikul bersama-sama. Dengan bergotong royong ngaben massal, kami,’’ katanya.
Sudirta dan warga masyarakat yang hadir menyampaikan terimakasih kepada para pahlawan yang telah mengantarkan kemerdekaan Republik Indonesia. Kini tinggal mengisi kemerdekaan tersebut dengan kesadaran berpolitik yang demokratis.
“Tetap mengedepankan musyawarah, persaudaraan, kemanfaatan, toleransi, perdamaian dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur melalui aneka karya budaya ke generasi yang ada sekarang, ” pungkasnya. BWN-03

































