Kuta, baliwakenews.com
Belakangan pada berbagai media, informasi kondisi suhu udara yang panas juga dikaitkan dengan fluktuasi radiasi ultraviolet (UV) dari sinar matahari. Menurut Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati besar kecilnya radiasi UV yang mencapai permukaan bumi memiliki indikator nilai indeks UV. Indeks ini dibagi menjadi beberapa kategori yakni 0-2 (Low), 3-5 (Moderate), 6-7 (High), 8-10 (Very High), dan 11 ke atas (Extreme). Secara umum, pola harian indeks ultraviolet berada pada kategori ‘Low’ di pagi hari. Kemudian mencapai puncaknya di kategori ‘High’, ‘Very high’, sampai dengan ‘Extreme’ ketika intensitas radiasi matahari paling tinggi di siang hari antara pukul 12:00-15:00 waktu setempat dan bergerak turun kembali ke kategori ‘Low’ di sore hari. Pola ini bergantung pada lokasi geografis dan elevasi suatu tempat, posisi matahari, jenis permukaan, dan tutupan awan.
Dijelaskan juga, tinggi rendahnya indeks UV tidak memberikan pengaruh langsung pada kondisi suhu udara di suatu wilayah. Untuk wilayah tropis seperti Indonesia, pola harian seperti disampaikan di atas secara rutin dapat teramati dari hari ke hari meskipun tidak ada fenomena Gelombang Panas. “Faktor cuaca lainnya seperti berkurangnya tutupan awan dan kelembapan udara dapat memberikan kontribusi lebih terhadap nilai indeks UV,” ujar Dwikorita dalam rilisnya, Rabu 26 April 2023.
Untuk lokasi dengan kondisi umum cuacanya diprakirakan cerah-berawan pada pagi sampai dengan siang hari dapat berpotensi menyebabkan indeks UV pada kategori ‘Very high’ dan ‘Extreme’ di siang hari. Pihaknyamenyrankan agar masyarakat tidak perlu panik menyikapi informasi UV harian tersebut, serta mengikuti dan melaksanakan himbauan respon bersesuaian yang dapat dilakukan untuk masing- masing kategori index UV. Seperti menggunakan perangkat pelindung atau tabir surya apabila melakukan aktifitas di luar ruangan. BWN-04
































