Pecatu, baliwakenews.com
Desa Pecatu optimis bisa menjadi yang terbaik dalam lomba desa tahun 2022.
Sebagai wakil Kecamatan Kuta (Kutsel), Desa Pecatu memiliki berbagai program dan inovasi yang dilakukan dalam membangun Pecatu yang muaranya untuk mensejahterakan masyarakat setempat.
Seperti program Sport Tourism dan pengelolaan sampah berbasis TPS 3 R yang kini menjadi program unggulan serta berbagai terobosan lainnya.
Dengan program yang sudah dirancang secara matang ini Pecatu mengaku siap jika dipercaya sebagai duta Badung di Propinsi bahkan juga wakil Bali dikancah nasional.
Optimisme ini dilontarkan Perbekel Desa Pecatu, Made Karyana Yadnya saat diminta komentarnya, Selasa (19/4).
Karyana Yadnya mengungkapkan dalam presentasi yang dilakukan di Puspem Badung turut hadir menidampingi Kelian Desa Adat, Pecatu, Ketua BPD dan lembaga lainya serta Camat Kutsel Ketut Gede Arta.
Untuk mewujudkan Sport Tourism ini
pihaknya bersama desa adat menata Lapangan Beji Mandala menjadi tempat event sepakbola bertaraf internasional.
Bahkan beberapa event sudah sempat digelar di sana yang tentunya juga bisa mengangkat talenta muda pecinta sepakbola di sana. Dalam sport tourism ini, selain bermain bola, para pemain dan keluarga mereka juga bisa sekaligus berwisata. Hal ini diharapkan membawa dampak positif bagi ekonomi masyarakat setempat. Selain sepakbola, berbagai olahraga lainya juga dipacu agar berkembang secara bersama-sama. Diantaranya ada olahraga selancar, pencak silat serta yang lainnya.
Sedangkan inovasi lain yang dilakukan pihaknya adalah mengolah sampah menjadi bahan yang bermanfaat melalui sistem pengolahan sampah berbasia TPS 3 R.
Dimana sampah organik dan nonorganik dipilah sedemikian rupa sehingga bisa menjadi bermanfaat. Seperti pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk kompos dan dimanfaatkan untuk pertanian. Sementara itu sampah non organik dijual ke pengepul sehingga mendatangkan keuntungan. Di sisi lain lingkungan terjaga kebersihannya.
Residu sampah organik ini juga bisa dimanfaatkan untuk bahan tambahan pembuatan batako dan paving.
Pupuk kompos yang dihasilkan selanjutnya dimanfaatakan oleh petani. Seperti untuk pupuk tanaman jeruk dan juga tanaman lainnya dalam bentuk tumpang sari. Pertanian lahan kering ini menjadi alternatif untuk penghidupan krama di tengah pandemi. Karena beberapa destinasi wisata di Pecatu yang sudah terkenal di mancanegara untuk sementara sepi dari kunjungan wisatawan.
“Namun kami tidak mau berdiam diri dan terus melalukan inovasi serta memotivasi para petani untuk bercocok tanam memanfaatkan pupuk olahan yang dihasilkan. Hal ini paling tidak bisa menunjang kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Sedangkan dalam mendukung pemerintah menghadapi pandemi covid 19, bersama desa adat Pecatu, pihaknya telah membentuk satgas gabungan.
Kesiaan ini juga disampaikan Camat Kutsel, Ketut Gede Arta. Bahkan kata dia, masih ada beberapa program dan inovasi yang sudah dilakukan Desa Pecatu. Salah satunya yakni urban farming dalam situasi pandemi serta beberapa program lainnya. Hal inilah yang membuat Desa Pecatu siap dan optimis bisa menampilkan yang terbaik dalam lomba desa kali ini. BWN-04

































