Pesiraman Bhuana Merta, Dijaga 5000 Pasukan Niskala

Iklan Home Page
Baliwakenews.com-Suasana sunyi diiringi suara gemericik air membuat hati dan jiwa terasa tenang. Sejuknya udara pegunungan dan jernihnya air Sungai Yeh Ning mengalir mengitari kawasan suci Pesiraman Bhuana Merta, yang merupakan tempat melukat atau ritual untuk membersihkan atau menyucikan diri seseorang secara sekala dan niskala.
Nama Pesiraman Bhuana Merta, barang kali belum banyak didengar oleh masyarakat Hindu Bali. Ya, lokasi melukat ini tidak seperti tempat melukat lainnya di Bali yang dikenal banyak orang. Sebut saja, Pura Tamba Waras di Kabupaten Tabanan dan Pura Tirta Empul di Kabupaten Gianyar.
Pesiraman Bhuana Merta terletak di Dusun Pekraman Tinungan, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Dari Kota Denpasar kurang lebih berjarak sekitar 40 kilometer dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam. Geografis Pesiraman Bhuana Merta berada di lembah Dusun Tinungan yang merupakan perbatasan antara Kecamatan Baturiti dan Kecamatan Penebel, Tabanan.
Pesiraman Bhuana Merta terbuka untuk masyarakat umum. Namun bagi masyarakat yang hendak melakukan pengelukatan di Pesiraman Bhuana Merta, tidak boleh sembarangan dan wajib dituntun jro mangku setempat. Karena, untuk menjaga kesucian tempat tersebut, masyarakat yang melukat ada baiknya mengikuti aturan dan tata cara pengelukatan yang ada di Pesiraman Bhuana Merta.
Saat datang ke Pesiraman Bhuana Merta, kami Tim Baliwakenews.com, terlebih dulu memarkir kendaraan di pinggir jalan raya Dusun Tinungan, tepatnya antara Desa Apuan menuju Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan. Untuk menuju lokasi melukat, kami menuruni anak tangga dan jalan setapak ke arah lembah. Kicauan burung serta suara binatang kecil khas pegunungan dan deretan pohon bambu seakan menyambut kedatangan kami.
Sekitar 200 meter dari parkiran, kami tiba di pintu masuk Pesiraman Bhuana Merta. Karena tidak ada orang, kami lantas menghubungi jro mangku yang nomor kontaknya terpampang di pilar bale bengong tepat di depan pintu masuk.
Suasana religius langsung terasa saat kami menuju pura tempat pemujaan, yang terletak di utara pancoran tempat melukat. Setelah Jro Mangku Wayan Jigra meminta izin dan memimpin proses ritual sebelum dimulainya pengelukatan, kami lantas diarahkan menuju lokasi pengelukatan pertama yang terletak di ujung selatan atau teben atau bawah. Lokasi melukat pertama bernama Campuhan. Campuhan merupakan pertemuan dua mata air yang alirannya menjadi satu.
Tak bisa diucapkan dengan kata, suasana berbeda seketika terasa saat kami menceburkan diri di pertemuan kedua mata air tersebut. Salah satu dari aliran air terasa hangat dan satunya terasa dingin. “Memang banyak keunikan dan ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata di sini. Beberapa orang yang melukat di Campuhan, mengaku merasakan rasa air sungai yang berbeda-beda. Seperti, rasa asam, manis, pahit, kecut dan rasa lainnya, tergantung pikiran dan niat mereka datang,” kata Jro Mangku.
Menurut Jro Mangku, dua aliran air sungai yang menjadi satu tersebut bernama Tukad Yeh Ning, bila diterjemahkan memiliki arti Air Jernih. Nama tersebut ada, karena air yang mengalir di sungai tidak pernah keruh, meski saat hujan deras.
Kemudian tak terasa kami selesai melukat di Campuhan, kemudian Jro Mangku mengajak kami menelusuri sungai ke lokasi melukat selanjutnya. Dan hanya beberapa meter di hulu Campuhan, kami tiba di lokasi melukat kedua, yakni di air terjun yang berisi pancuran. Setelah itu, kami menuju goa kecil di barat air terjun dan kembali melukat di pancuran dalam goa. Terkahir kami melukat di lima pancoran yang berada di tengah kolam tepat di bawah pura Pesiraman Bhuana Merta.
Menurut Jro Mangku, berbeda dengan tempat melukat lainnya yang ada di Bali, di Pesiraman Bhuana Merta terdapat dua lokasi yang dilarang digunakan untuk melukat bagi masyarakat umum. Yakni di dalam Goa Taru Pole atau di bawah pohon pole dan sumber mata air sungai yang diyakini stana dari Ida Ratu Ayu. “Kalau di Goa Taru Pole hanya untuk sulinggih yang mewiten dan orang suci secara spritual. Untuk di mata air stana Ida Ratu Ayu merupakan beji pura dan tidak boleh dipakai melukat,” beber Jro Mangku.
Jro Mangku menuturkan, orang-orang yang datang untuk melukat di Pesiraman Bhuana Merta, 80 persen merupakan penekun spritual yang mendapatkan pawisik atau bisikan dari sang pencipta. “Menurut cerita penekun spritual yang datang ke sini, katanya asa energi yang luar biasa di tempat melukat ini, terutama di Goa Taru Pole. Dan para pengelingsir kami mengatakan jika di Pesiraman Bhuana Merta, dijaga 5000 pasukan niskala,” tegasnya. BWN-01
Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR