Tim PKM-RSH IPBI Bantu Pertahankan Eksistensi Kain Songket Sidemen Saat Pandemi Covid-19

Iklan Home Page

Karangasem, baliwakenews.com

Tim PKM-RSH (Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Sosial Humaniora) Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPBI) yang terdiri dari lima mahasiswa yakni Ni Kadek Ajeng Wangi Bhuana Putri, I Putu Ryan Dharma Putra, Ni Made Ayu Cantika Ratih, I Made Indra Wahyudi dan Marcellino Dominicus Adam dan dibimbing Dosen pendamping oleh Dr. Putu Sabda Jayendra, S.Pd.H.,M.Pd.H membantu masyarakat Sidemen untuk menghasilkan rancangan strategis dalam mendukung pengembangan Kain Songket Sidemen di Desa Sidemen.

Ni Kadek Ajeng Wangi Bhuana Putri mengatakan, Desa Sidemen terlibat aktif dalam pengembangan dan pelestarian eksistensi Kain Songket Sidemen sebagai produk wisata yang unggul kreatif dan berbudaya. “Masyarakat Desa Sidemen kini kembali ke profesi semula saat pandemicovid-19 ini yakni menjadi perajin kain songket asli Sidemen. Dulu mereka bekerja disektor pariwisata yakni di bidang perhotelan,”ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, Kain Songket yang dihasilkan memiliki beragam motif yang didapat melalui contoh kain terdahulu maupun motif yang didapat dari sumber gambar yang sudah ada. “Motif yang diberikan pada kain tenunan diantaranya kedis, boma, bulan, merak, wayang dan lain sebagainya. Motif kain songket Desa Sidemen yang digemari pelanggan kain tenun yaitu motif bulan, merak dan wayang, selanjutnya kain hasil tenunan yang didapatkan akan dikreasikan menjadi produk jadi sesuai dengan keperluan penggunanya,”terangnya.

Baca Juga:  Jumat Ceria Pemkab Badung , Libatkan UMKM Disabilitas

Bahan dasar yang digunakan dalam pengerjaan kain songket, kata Ajeng, sangat bervariasi sesuai dengan kualitas bahan. “Bahan dasar kain tenunan terdiri dari bahan yang sudah lumrah yakni benang metris juga bahan dasar benang sutra yang tergolong cukup mahal daya jualnya saat ini,”paparnya.

DOKUMEN-Dokumentasi masyarakat Desa Sidemen terlibat aktif dalam memproduksi Kain Songket Sidemen.

Ia juga menjelaskan, waktu pengerjaan yang dihabiskan seorang perajin dalam membuat kain tenunan sekitar satu bulan, tergantung dari kerumitan pengerjaannya. Tidak jarang seorang perajin bisa menyelesaikan selembar kain tenunan songket Sidemen paling cepat dua minggu. “Perajin kain songket ini tidak diperkenankan menenun saat hari-hari raya tertentu, sehingga waktu pengerjaannya akan dilanjutkan di lain hari. Kebudayaan kain songket Sidemen ini mengalami dinamisasi saat masa globalisasi, kain tenunan songket yang semula dianggap sifatnya sakral, Tapi berjalannya waktu kini berubah dalam penggunaan nilainya. Dimana dalam penafsiran nilai songket saat ini masyarakat Desa Sidemen menafsirkan setiap nilainya ke arah yang lebih dinamis , menyesuaikan dengan keadaan saat ini khususnya dalam bidang fasion,”jelasnya.

Baca Juga:  Gandeng DPR RI, Wayan Suyasa Fasilitasi Bibit Kelapa Genjah di Desa Pelaga

Ajeng juga memaparkan, berdasarkan pernyataan narasumber yang ditemui di Desa Sidemem yaitu Jero Widari berpendapat, “Penerapan Kain Songket sekarang lebih dinamis, kemarin pada sebelum awal pandemi sempat ada disainer asal Jepang yang survei ke sini untuk menjadikan songket dalam acara fashion show dia”. Dari pernyataan ini dapat dikatakan bahwa awalnya kain songket yang dulu hanya bisa digunakan dalam acara keagamaan hindu saja kini berubah penggunaan nilainya ke arah yang lebih dinamis.

Kemudian untuk pembuatan Kain Songket juga berdasarkan dari trend. Hal ini dilandaskan dari argumen Ibu Jero Widari pada saat wawancara dimana pendapat beliau adalah sebagai berikut “Kalau untuk pesanan Kain Songket kita sekarang mengikuti on request dimana biasanya trend ini dibuat oleh masyarakat khususnya MUA di Daerah Bali dan kebanyakan motif yang dipesan adalah motif bulan karena lebih fleksibel”. Pembuatan kain songket sesuai trend ini berdasarkan dari keadaan pandemi dimana distributor lebih memilih untuk menghasilkan kain songket berdasarkan pesanan ketimbang menyetok jumlah kain songket itu sendiri. Dikahwatirkan apabila para distributor mengepul terlalu banyak kain akan berpengaruh pada penghasilan para penenun Kain Songket sidemen.

Baca Juga:  DPRD Badung Dukung Pelestarian Adat melalui Dresta Lango dan Dharma Shanti Desa Adat Bualu

“Dari hasil wawancara dan obrsevasi yang dilakukan TIM PKM-RSH Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional menghasilkan rancangan strategis untuk mendukung pengembangan Kain Songket Sidemen sebagai produk wisata budaya yang unggul dan kreatif khas Desa Sidemen serta dapat dijadikan rekomendasi untuk pemerintah dan masyarakat di Desa Sidemen dan memiliki dampak positif pada kesejahteraan masyarakat,”jelas ajeng menutup pejelansan riset yang dilakukan di Desa Sidemen untuk membantu masyarakat di desa tersebut. BWN-05

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR