Denpasar, Baliwakenews.com
Pemerintah Provinsi Bali mempercepat transisi energi bersih di sektor transportasi dengan meluncurkan 11 unit bus listrik Trans Sarbagita beserta enam unit infrastruktur pengisian daya atau charging station. Bantuan hibah melalui Proyek Bali E-Mobility dari Pemerintah Republik Korea ini diharapkan menjadi langkah konkret untuk mengurangi polusi udara sekaligus mendorong penggunaan kendaraan listrik di Bali.
Peluncuran bus listrik dan stasiun pengisian daya tersebut dilakukan Gubernur Bali Wayan Koster bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy di Lapangan Timur, Niti Mandala Renon, Denpasar, Kamis (22/10/2026).
Gubernur Koster menegaskan, pengoperasian bus listrik Trans Sarbagita merupakan bagian dari percepatan implementasi kebijakan Bali Energi Bersih. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan memperluas pemanfaatan energi ramah lingkungan, baik dalam produksi energi maupun penggunaannya.
“Berdasarkan hasil studi, lebih dari 90 persen polusi udara di Bali bersumber dari pembangkit listrik dan transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil. Oleh sebab itu, kebijakan ini kita percepat,” tegas Koster.
11 Bus Listrik dan Enam Charging Station untuk Bali
Melalui Proyek Bali E-Mobility, Pemerintah Republik Korea melalui Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas serta Global Green Growth Institute (GGGI) memberikan hibah 11 unit bus listrik dan enam unit infrastruktur pengisian daya kepada Pemprov Bali.
Bus listrik yang dihibahkan telah memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dengan pengerjaan bodi bus dilakukan di Indonesia. Hal ini sekaligus menunjukkan keterlibatan industri dalam negeri dalam pengembangan transportasi berbasis energi bersih.
Koster menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Republik Korea atas dukungan tersebut. Ia juga berterima kasih kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas yang telah menunjuk Bali sebagai penerima manfaat sekaligus lokasi percontohan kerja sama transisi energi.
Menariknya, desain dan warna bus listrik tersebut turut diarahkan agar mencerminkan identitas budaya Bali. Kombinasi warna hitam, merah, dan putih dipilih sebagai representasi Tri Datu, simbol yang lekat dengan kehidupan masyarakat Bali.
“Desain dan warnanya pun kami yang mengarahkan, kombinasi warna hitam, merah, dan putih sebagai lambang Tri Datu yang menjadi simbol lekat dengan nilai budaya Bali. Ayo ramai-ramai kita beralih menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai,” ujar Koster.
Bali Percepat Kebijakan Energi Bersih dari Hulu ke Hilir
Koster menjelaskan, percepatan penggunaan bus listrik tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari kebijakan energi bersih Bali yang diterapkan dari hulu hingga hilir.
Pada sektor hulu, Pemprov Bali mengacu pada Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih. Regulasi tersebut mendorong pengurangan penggunaan energi fosil, seperti batu bara dan solar, serta peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Upaya pengembangan energi surya di Bali juga mendapat dukungan pemerintah pusat melalui alokasi kapasitas sebesar 1.000 megawatt untuk pengembangan PLTS di wilayah Jembrana dan Gilimanuk. Proses perizinan saat ini masih berjalan, dengan pelaksanaan pengembangan diharapkan dapat dimulai pada 2027.
Sementara pada sektor hilir, percepatan kendaraan listrik berbasis baterai dilaksanakan berdasarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 48 Tahun 2019 tentang Kendaraan Listrik Berbasis Baterai.
Kebijakan tersebut sempat menghadapi kendala akibat pandemi COVID-19. Namun, pada periode kedua kepemimpinannya, Koster kembali menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasinya.
Ia menyebut penjualan mobil listrik di Bali terus menunjukkan peningkatan. Meski demikian, penggunaan kendaraan listrik roda dua dinilai masih perlu didorong agar semakin luas di tengah masyarakat.
Menurut Koster, kendaraan listrik memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari efisiensi biaya operasional, pengurangan kebisingan, hingga tidak menghasilkan emisi gas buang langsung dari kendaraan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan di Bali untuk ikut memperluas penggunaan kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan dan keberlanjutan pariwisata Bali.
Bappenas Dorong Bali Jadi Model Transisi Energi Nasional
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menilai Proyek Bali E-Mobility menjadi bukti nyata kolaborasi antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Republik Korea, dan GGGI dalam mempercepat peralihan dari energi fosil menuju energi bersih.
Menurutnya, Bali memiliki posisi strategis sebagai lokasi percontohan pengembangan transportasi ramah lingkungan. Pengalaman dari proyek ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memperkuat kebijakan transisi energi di tingkat nasional.
Pambudy juga mengapresiasi komitmen Pemprov Bali dalam mendorong pembangunan berkelanjutan melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
Ia menekankan, menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan tidak cukup hanya melalui pengelolaan sampah rumah tangga. Upaya tersebut juga harus mencakup pengurangan pencemaran yang bersumber dari pembangkit listrik, kendaraan bermotor, serta industri yang masih bergantung pada energi fosil.
Pambudy mengaku telah lama mengagumi kearifan lokal Bali, khususnya filosofi Tri Hita Karana yang mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
“Saya sejak muda sudah kagum dengan kearifan lokal Tri Hita Karana di Bali, yaitu bagaimana masyarakat membina hubungan yang baik dan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam. Bagaimana masyarakat Bali bisa memberikan contoh memuliakan alam dengan konsep Tri Hita Karana,” ungkapnya.
Ia menilai filosofi tersebut sejalan dengan agenda transisi energi dan pembangunan yang memperhatikan keseimbangan lingkungan.
Pambudy berharap Bali mampu menjadi contoh pembangunan berkelanjutan, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia, melalui perpaduan kearifan lokal, penggunaan energi bersih, dan perlindungan lingkungan.
Peluncuran 11 bus listrik Trans Sarbagita dan enam stasiun pengisian daya ini menjadi langkah penting dalam agenda tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan pemanfaatan armada berjalan optimal, didukung infrastruktur pengisian yang memadai, serta mendorong masyarakat beralih ke transportasi rendah emisi secara berkelanjutan.
Dengan langkah tersebut, Bali tidak hanya memperkuat transportasi publik, tetapi juga mendorong terwujudnya sistem mobilitas yang lebih bersih, efisien, dan selaras dengan komitmen pembangunan berkelanjutan. BWN-03
































