Mamgupura,baliwakenews.com
Penataan trotoar dan jaringan kabel di kawasan Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Badung, mulai dilakukan. Namun, pembenahan wajah kawasan wisata bahari tersebut dinilai belum menjawab persoalan mendasar berupa keterbatasan kapasitas jalan utama. Sementara itu, rencana pembangunan jalan lingkar barat yang telah berulang kali diusulkan masyarakat masih menanti kepastian realisasi.
Tokoh Tanjung Benoa yang juga anggota DPRD Badung, Made Wijaya, mengatakan kebutuhan jalan alternatif semakin mendesak seiring berkembangnya aktivitas pariwisata di kawasan tersebut. Jalan utama yang relatif sempit dinilai menyulitkan mobilitas, terutama ketika bus pariwisata berpapasan dengan kendaraan pribadi, taksi, maupun kendaraan warga.
“Jalan utama sekarang tidak bisa diandalkan untuk kebutuhan wisata bahari ke depan karena sempit. Bus besar saja sulit berpapasan, apalagi kalau bersamaan dengan mobil pribadi, taksi, dan kendaraan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Wijaya, pembangunan jalan lingkar barat semestinya kembali menjadi perhatian pemerintah daerah. Selain mendukung kelancaran arus kendaraan, jalan alternatif tersebut dinilai penting untuk menunjang aktivitas masyarakat dan menjaga keberlanjutan pariwisata Tanjung Benoa.
Ia mengungkapkan, usulan pembangunan jalan lingkar barat telah berulang kali disampaikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), termasuk di tingkat kelurahan. Namun, hingga kini, rencana tersebut belum juga terealisasi.
Wijaya menyayangkan kebutuhan infrastruktur yang telah lama disuarakan masyarakat itu belum memperoleh kepastian. Ia khawatir, jika tidak terakomodasi dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, realisasinya kembali tertunda karena harus menunggu tahapan perencanaan berikutnya.
Persoalan tersebut, lanjut dia, sempat disampaikan langsung kepada Sekretaris Daerah Badung. Ia berharap pemerintah daerah memberikan kejelasan mengenai arah kebijakan dan tindak lanjut terhadap usulan pembangunan jalan lingkar barat.
Wijaya juga menyoroti kemungkinan adanya kendala dalam rencana tersebut, termasuk aspek kawasan Taman Hutan Raya (Tahura). Namun, ia menilai perlu ada penjelasan yang lebih terang mengenai faktor yang memengaruhi belum terealisasinya pembangunan tersebut.
Menurutnya, kebutuhan jalan lingkar barat tidak semata-mata untuk kepentingan pariwisata. Infrastruktur tersebut juga berkaitan dengan aksesibilitas warga, kenyamanan berkendara, serta kelancaran kegiatan ekonomi masyarakat setempat.
Di tengah belum pastinya pembangunan jalan alternatif, penataan infrastruktur di sepanjang Jalan Pratama Tanjung Benoa tetap berjalan melalui program Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Pekerjaan tersebut meliputi penataan trotoar dan pemindahan jaringan kabel ke bawah tanah.
Wijaya menyebut pekerjaan pemindahan kabel bawah tanah mulai dilakukan pada Oktober 2026, setelah penataan dan pengaspalan trotoar. Pekerjaan lanjutan direncanakan pada 2027 di kawasan perbatasan Benoa dan Tanjung Benoa, dengan target penyelesaian pada Desember.
Ia mengapresiasi penggunaan batu alam pada trotoar serta upaya merapikan jaringan kabel untuk memperbaiki tampilan kawasan. Meski demikian, ia mengingatkan agar penataan tersebut diikuti pembenahan badan jalan yang masih bergelombang dan tidak merata di sejumlah titik.
Bagi Wijaya, peningkatan kualitas trotoar dan kerapian jaringan utilitas merupakan bagian penting dari pembenahan kawasan. Namun, kebutuhan jalan alternatif tetap harus menjadi perhatian karena menyangkut kapasitas infrastruktur dalam menghadapi pertumbuhan aktivitas wisata.
Ia berharap pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada estetika kawasan, tetapi juga memberikan kepastian terhadap pembangunan jalan lingkar barat. Dengan begitu, penataan infrastruktur Tanjung Benoa dapat berjalan lebih menyeluruh, mulai dari kenyamanan pejalan kaki hingga kelancaran mobilitas kendaraan.
Kepastian pembangunan jalan lingkar barat dinilai menjadi salah satu kebutuhan penting agar perkembangan Tanjung Benoa sebagai destinasi wisata bahari dapat berjalan seimbang dengan kepentingan masyarakat dan daya dukung infrastrukturnya. BWN-04
































