Mangupura, baliwakenews.com
Sepanjang 2025, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai melayani 24,1 juta penumpang, menempatkannya sebagai salah satu bandara tersibuk di Indonesia. Namun tingginya trafik ini sekaligus memunculkan pertanyaan, sejauh mana kesiapan infrastruktur dan layanan bandara mengimbangi lonjakan jumlah pengguna jasa?
PT Angkasa Pura Indonesia selaku pengelola bandara menyebut peningkatan fasilitas dan kualitas layanan sebagai langkah strategis untuk mencegah penurunan kenyamanan penumpang. Sejumlah pembenahan dilakukan, mulai dari revitalisasi terminal hingga penambahan fasilitas penunjang perjalanan.
General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Nugroho Jati, mengakui bahwa tingginya arus penumpang menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga standar layanan.
“Dengan trafik yang terus meningkat, bandara harus beradaptasi agar pelayanan tetap optimal dan tidak tertinggal dari kebutuhan pengguna jasa,” ujarnya, Sabtu(31/1/2026).
Beberapa fasilitas baru yang telah dihadirkan antara lain hand baggage trolley, baby stroller, kursi ruang tunggu dengan charging station, kios check-in mandiri, serta peningkatan bandwidth Wi-Fi. Meski demikian, pembenahan tersebut dinilai masih perlu diuji efektivitasnya, terutama saat jam sibuk dan musim puncak kunjungan wisata.
Di sisi lain, peningkatan layanan juga menyasar aspek informasi penumpang. Penunjuk arah di terminal domestik dan internasional kini menggunakan empat bahasa: Indonesia, Inggris, Mandarin, dan Arab. Langkah ini dinilai adaptif terhadap profil wisatawan, namun sekaligus menegaskan besarnya tekanan layanan akibat semakin beragamnya pengguna bandara.
Pembenahan yang dilakukan Bandara Ngurah Rai juga tidak terlepas dari upaya memperbaiki peringkat global Skytrax, di mana bandara ini masih berada di posisi 72 dari 171 bandara dunia. Peringkat tersebut mencerminkan bahwa, meski menjadi gerbang utama pariwisata Bali, kualitas layanan masih memiliki ruang perbaikan.
“Penilaian Skytrax menjadi alat ukur yang objektif karena dinilai langsung oleh penumpang. Hasilnya menjadi bahan evaluasi kami,” kata Nugroho.
Pengelola bandara pun mengajak masyarakat berpartisipasi dalam survei Skytrax. Namun bagi sebagian pengamat, partisipasi publik seharusnya tidak hanya menjadi instrumen penilaian, melainkan juga diikuti perbaikan konkret terhadap persoalan klasik bandara seperti antrean, kepadatan ruang tunggu, dan konsistensi pelayanan petugas.
World Airport Awards oleh Skytrax menilai bandara melalui lebih dari 330 indikator, mencakup tata letak terminal, kebersihan, kenyamanan, hingga kualitas layanan. Dengan beban penumpang yang terus meningkat, tantangan Bandara I Gusti Ngurah Rai ke depan bukan hanya mengejar peringkat global, tetapi memastikan kenyamanan penumpang tetap terjaga di tengah tekanan trafik yang tinggi. BWN-04































