Mangupura, baliwakenews.com
Kondisi Jalan Pratama di Tanjung Benoa kembali menuai sorotan. Jalan utama menuju kawasan wisata andalan Badung itu dinilai semakin memprihatinkan setelah bertahun-tahun minim perbaikan. Kerusakan, genangan saat hujan, hingga kemacetan kronis kini menjadi persoalan harian yang dikeluhkan masyarakat dan pelaku usaha.
Wakil Ketua II DPRD Badung, I Made Wijaya alias Yonda, mendesak Pemerintah Kabupaten Badung segera merealisasikan perbaikan menyeluruh pada jalur tersebut. Menurutnya, Jalan Pratama bukan sekadar akses biasa, melainkan urat nadi perekonomian sekaligus wajah pariwisata Tanjung Benoa.
“Sudah terlalu lama jalan ini dibiarkan. Saya berharap tahun 2026 perbaikannya benar-benar direalisasikan sesuai rekomendasi DPRD,” tegas Yonda, Minggu (26/4/2026).
Politisi yang juga Bendesa Adat Tanjung Benoa itu mengungkapkan, selama lebih dari 13 tahun, Jalan Pratama nyaris tak tersentuh perbaikan signifikan. Padahal, jalur ini menjadi satu-satunya akses utama menuju pusat wisata bahari Tanjung Benoa.
Akibatnya, sejumlah titik jalan mengalami kerusakan parah, bergelombang, berlubang, dan kerap tergenang saat hujan. Salah satu ruas yang paling disorot berada di depan Lapangan Lagoon, yang kondisinya dinilai sangat mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
“Setiap hari dilalui wisatawan, masyarakat, dan pelaku usaha. Tapi kondisinya jauh dari layak untuk kawasan pariwisata internasional,” ujarnya.
Yonda menilai, kondisi ini sangat ironis. Pasalnya, sepanjang Jalan Pratama berdiri hotel berbintang, restoran, hingga berbagai usaha pariwisata yang menjadi penyumbang signifikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Badung.
“Jalur ini memberi kontribusi besar bagi PAD, tetapi infrastrukturnya tertinggal. Ini tentu mencoreng citra pariwisata Badung,” katanya.
Tak hanya menyoroti perbaikan jalan, Yonda juga mempertanyakan belum masuknya proyek Jalur Lingkar Tanjung Benoa dalam RPJMD Badung 2026. Menurutnya, jalur lingkar merupakan solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan yang selama ini terjadi.
Dengan Jalan Pratama sebagai satu-satunya akses dan kondisi lahan yang nyaris mustahil untuk pelebaran, pembangunan jalur alternatif dinilai sudah menjadi kebutuhan mendesak.
“Kalau jalur lingkar tidak masuk perencanaan, kapan akan dibangun? Padahal ini solusi permanen untuk Tanjung Benoa,” kritiknya.
Ia menegaskan akan terus mengawal dua proyek strategis tersebut, baik melalui pembahasan anggaran induk maupun anggaran perubahan tahun 2026.
“Jangan tunggu sampai 2027 atau 2028. Ini menyangkut kepentingan masyarakat, kenyamanan wisatawan, dan masa depan pariwisata Badung,” tandasnya.
Yonda berharap, perbaikan Jalan Pratama dapat segera direalisasikan sebagai langkah jangka pendek, sementara pembangunan Jalur Lingkar Tanjung Benoa harus segera masuk dalam perencanaan agar persoalan kemacetan di kawasan wisata tersebut bisa ditangani secara tuntas. BWN-04
































