Tabanan, baliwakenews.com – Minggu dini hari itu seharusnya hanya jadi rutinitas malam biasa di gudang mobil PT Lipuri Jagadh, Kecamatan Kediri, Tabanan. Tapi dentuman keras dari balik bangunan sunyi itu mengubahnya menjadi mimpi buruk, kobaran api mengganas, melahap segalanya, dan menyisakan luka serta bara trauma.
Pukul 02.00 Wita, Fajar Sekti Seno Nugroho (23) tengah mempersiapkan makanan. Bersama rekan kerjanya, Topan Tatas Pradana (34), ia menunggu pagi dengan kegiatan sederhana, yakni memasak menggunakan kompor gas portabel. Namun, dalam hitungan detik, keheningan berubah jadi kepanikan. Kompor meledak. Api menjalar cepat, menjilat tumpukan bahan mudah terbakar di sekitarnya. Gudang itu, yang biasa sunyi dan teratur, berubah menjadi lautan api.
Api terlihat pertama kali oleh petugas keamanan Bank Mandiri yang berjaga di lokasi tak jauh dari tempat kejadian. Kepulan asap hitam dan kilatan api memantik alarm instingnya. Ia segera menghubungi Polsek Kediri dan petugas pemadam kebakaran. Namun si jago merah keburu mengamuk.
Tiga unit pemadam tiba 15 menit kemudian. Namun butuh satu setengah jam, hingga pukul 03.30 Wita, untuk mengendalikan kobaran api yang melalap habis gudang dan isinya.
“Api sangat cepat membesar karena di dalam ruangan terdapat akumulasi bahan mudah terbakar,” ujar Kapolsek Kediri, Kompol I Nyoman Sukadana. Ia memimpin langsung proses penyelidikan di lokasi kebakaran.
Akibat insiden itu, enam mobil hangus terbakar: satu unit Toyota Land Cruiser, dua unit Toyota Hiace, dua Toyota Avanza, dan satu unit Toyota Innova Zenix. Total kerugian ditaksir mencapai Rp1,5 miliar.
Namun yang paling memukul bukanlah nominal kerugian, melainkan luka parah yang diderita Topan. Hampir 90 persen tubuhnya terbakar. Ia kini terbaring kritis di RSUD Tabanan, dengan tubuh penuh perban dan harapan yang disandarkan pada peralatan medis.
Keduanya adalah perantau dari Desa Plosojenar, Kauman, Ponorogo, Jawa Timur. Mereka datang ke Bali untuk bekerja, untuk hidup, dan barangkali, untuk menggapai mimpi. Tak ada yang menyangka bahwa di antara tumpukan kendaraan mahal dan dokumen pengiriman, justru nyawa yang akan terancam hanya karena satu kompor kecil.
Gudang itu milik Wayan Sukarma (58), warga Banjar Puseh, Kediri. Sementara penyelidikan masih berlangsung. Polisi kini mendalami kemungkinan kelalaian dalam standar operasional kerja, khususnya penggunaan alat masak di area yang penuh risiko.
“Kami sedang mengevaluasi aspek keselamatan kerja. Ini pelajaran bahwa satu kesalahan kecil bisa berdampak besar,” tegas Sukadana.
Dini hari itu, enam mobil mewah tidak hanya menjadi abu. Ia juga meninggalkan peringatan, tentang bahaya kecil yang diabaikan, tentang hidup yang bisa berubah hanya dalam satu letupan kecil. BWN-01

































