Kerobokan, baliwakenews.com
Momentum peringatan Hari Kartini, Senin (20/4), dimanfaatkan Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) Kabupaten Badung untuk menyalurkan bantuan kepada anak-anak yatim piatu di sejumlah wilayah. Namun di balik aksi sosial tersebut, terselip persoalan mendasar yang belum terselesaikan, ketiadaan hunian layak bagi sebagian penerima bantuan.
Penyaluran bantuan menyasar beberapa titik, di antaranya wilayah Kerobokan, Desa Buduk, Desa Sibang Gede, Desa Penarungan, hingga Desa Blahkiuh. Di Kelurahan Kerobokan, Banjar Gede diberikan kepada I Komang Ditya Wiranata Putra. Desa Buduk, bantuan diberikan kepada tiga bersaudara yatim piatu, yakni Kadek Meldi (26), Komang Marsya (17), dan Ketut Miki Panesa (14), yang selama ini hidup berpindah-pindah tanpa kepastian tempat tinggal.
Selain itu, bantuan juga diserahkan kepada Putu Amelia Noviandra Inkaputri dari Banjar Tatag, Desa Sibang Gede, serta sejumlah anak yatim piatu lainnya di wilayah berbeda di Kabupaten Badung.
Kelian Adat Gede, Kerobokan, Nyoman Gede Gunadi mengapresiasi kepedulian KPPG. Namun, pihaknya juga memohon bantuan bedah rumah bagi warganya ini.
“Kami berterima kasih atas bantuan ini. Tapi kami juga berharap ada perhatian dari pemerintah, khususnya program bedah rumah atau rehab rumah. Mereka ini tidak punya rumah layak, bahkan harus berpindah-pindah karena sudah tidak memiliki orang tua,” ujarnya.
Dari pihak KPPG, kegiatan ini disebut sebagai bagian dari komitmen organisasi perempuan di bawah Partai Golkar dalam memperingati Hari Kartini melalui aksi nyata. Salah satu unsur pimpinan KPPG Badung, Putu Bela Agustina menyatakan bahwa bantuan yang diberikan mungkin tidak besar, namun diharapkan dapat membantu kebutuhan dasar dan aktivitas sehari-hari penerima.
“Ini bentuk kepedulian kami. Memang nilainya tidak besar, tetapi kami ingin hadir dan memberi manfaat langsung,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Badung, AAN Ketut Agus Nadi Putra, serta Ketua Fraksi Golkar DPRD Badung, I Nyoman Gede Saskara.
Di tengah rutinitas kegiatan seremonial peringatan Hari Kartini, realitas yang dihadapi anak-anak yatim piatu di Badung justru membuka ruang evaluasi. Bantuan sosial bersifat temporer dinilai belum cukup menjawab kebutuhan jangka panjang, terutama terkait akses terhadap hunian layak dan perlindungan sosial berkelanjutan.
Momentum Kartini tidak hanya berhenti pada simbol emansipasi, tetapi juga menjadi refleksi terhadap keberpihakan kebijakan,khususnya bagi kelompok rentan yang masih berada di pinggiran perhatian pembangunan. BWN-05





























