Mangupura, baliwakenwws.com
Pantai Labuan Sait tak hanya dikenal sebagai surga peselancar dunia, tetapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali. Namun di balik pesonanya, akses menuju pantai yang terkenal dengan ombak kelas dunia itu kini dinilai sudah tidak lagi memadai untuk menampung tingginya aktivitas wisata maupun kegiatan adat.
Kondisi tersebut mendorong Desa Adat Pecatu mengusulkan pembangunan jalur alternatif yang dinilai lebih aman dan mampu mendukung berbagai aktivitas di kawasan pantai.
Bendesa Adat Pecatu, Made Sumertha, menjelaskan bahwa jalan menuju Pantai Labuan Sait saat ini masih menjadi persoalan karena sempit, menurun tajam, dan melewati celah tebing yang terbatas. Situasi itu semakin terasa saat jumlah wisatawan meningkat maupun ketika berlangsung upacara adat berskala besar.
“Jalan yang ada sekarang sangat sempit dan tanjakannya cukup terjal. Kondisi ini sering menyulitkan berbagai aktivitas, termasuk saat pengangkutan sampah maupun pelaksanaan upacara adat,” ujarnya, Kamis (24/6/2026).
Menurut Sumertha, kebutuhan akses yang lebih baik bukan semata-mata untuk mendukung sektor pariwisata. Pantai Labuan Sait juga merupakan salah satu lokasi utama pelaksanaan upacara Melasti, ritual penyucian yang rutin diikuti ribuan umat dari berbagai desa adat menjelang hari raya keagamaan.
Saat prosesi berlangsung, iring-iringan umat harus berbagi ruang dengan wisatawan yang memadati kawasan pantai. Kondisi jalan yang sempit dan cukup terjal membuat seluruh rangkaian kegiatan harus dilakukan dengan kehati-hatian ekstra. “Setiap ada Melasti, semua harus ekstra waspada. Jalannya sempit, cukup terjal, dan sering ramai pengunjung,” jelasnya.
Persoalan lainnya muncul saat musim angin barat. Sampah kiriman yang menumpuk di pesisir membutuhkan penanganan cepat menggunakan armada pengangkut. Namun keterbatasan akses jalan sering menjadi hambatan dalam proses pembersihan kawasan pantai.
Untuk menjawab berbagai kebutuhan tersebut, Desa Adat Pecatu mengusulkan pembangunan jalan alternatif di sisi selatan jembatan yang nantinya menjadi akses utama menuju Pantai Labuan Sait. Jalur baru itu dirancang lebih landai sehingga kendaraan dapat keluar-masuk kawasan pantai dengan lebih mudah dan aman.
Keberadaan akses baru diyakini akan memberikan manfaat ganda, mulai dari memperlancar aktivitas wisata, mendukung kelancaran upacara adat, hingga mempercepat penanganan sampah kiriman yang rutin terjadi setiap musim angin barat.
Selain itu, jalur alternatif tersebut juga dipandang penting dari sisi mitigasi bencana. Dengan akses yang lebih luas dan representatif, proses evakuasi dapat dilakukan lebih cepat apabila terjadi kondisi darurat, termasuk ancaman tsunami.
“Ini bukan hanya untuk wisatawan atau kegiatan adat saja, tetapi juga penting untuk jalur evakuasi jika terjadi bencana,” tegas Sumertha.
Karena itu, Desa Adat Pecatu berharap usulan pembangunan akses baru menuju Pantai Labuan Sait mendapat dukungan pemerintah sehingga dapat segera direalisasikan.
“Mudah-mudahan bisa segera terwujud karena manfaatnya sangat besar, baik untuk masyarakat, wisatawan, maupun kegiatan adat di Labuan Sait,” harapnya. BWN-04
































