Mangupura, baliwakenews.com
Meningkatnya keluhan warga terkait dugaan aksi penjambretan di wilayah Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan (Kutsel), Badung, mulai menjadi perhatian serius. Persoalan keamanan kawasan wisata itu ramai diperbincangkan di media sosial setelah seorang wisatawan asing dilaporkan mengalami luka di bagian bahu, punggung hingga kaki usai diduga menjadi korban penjambretan.
Sorotan terhadap kondisi tersebut datang dari Anggota Komisi I DPRD Badung asal Pecatu, I Made Tomy Martana Putra. Ia menilai penguatan keamanan di kawasan wisata Pecatu dan Uluwatu harus segera dilakukan agar citra pariwisata tetap terjaga di tengah tingginya kunjungan wisatawan.
“Pecatu ini daerah pariwisata. Wisatawan banyak datang ke sini. Jangan sampai karena kasus-kasus seperti ini membuat wisatawan takut datang ke Pecatu maupun Uluwatu,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (21/5/2026).
Selain dugaan penjambretan terhadap wisatawan asing yang sempat viral, Tomy juga menyinggung adanya kasus pencurian helm dengan pelaku yang disebut menggunakan atribut menyerupai pengemudi ojek online. Namun setelah diamankan, atribut tersebut diduga palsu.
Menurutnya, kondisi itu menunjukkan perlunya pengawasan lebih ketat di kawasan wisata yang ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Ia juga menyoroti keberadaan ojek liar di sejumlah titik wisata seperti Labuan Sait, Suluban hingga Bingin yang dinilai perlu mendapat penertiban lebih intensif. “Patroli dan sidak rutin perlu kembali digencarkan dengan melibatkan semua pihak,” katanya.
Tak hanya soal patroli, Tomy juga menilai minimnya penerangan jalan umum menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerawanan tindak kriminal di kawasan wisata Pecatu. Sejumlah ruas jalan menuju destinasi wisata disebut masih gelap akibat banyak lampu penerangan jalan yang padam. “Di daerah Bingin itu banyak sekali titik yang gelap dan rawan. Saya sudah menghubungi Dinas Perhubungan supaya segera ditindaklanjuti karena ini sangat mendesak,” ujarnya.
Ia menegaskan, kondisi jalan yang minim penerangan tidak hanya memengaruhi rasa aman masyarakat, tetapi juga kenyamanan wisatawan yang datang berkunjung. Apalagi di era digital saat ini, informasi mengenai tindak kriminal dapat dengan cepat menyebar melalui media sosial dan berdampak pada citra pariwisata Bali. “Sekarang apa pun cepat viral. Wisatawan bisa berpikir ulang datang ke Pecatu kalau merasa tidak aman,” sebutnya.
Tomy juga meminta keterlibatan desa adat diperkuat sebagai garda terdepan menjaga keamanan lingkungan. Ia mendorong patroli bersama dilakukan rutin dengan melibatkan kepolisian, Satpol PP, linmas, pecalang hingga unsur DPRD setempat. “Kalau bisa seminggu sekali ada patroli atau sidak. Jangan hanya represif setelah kejadian, tapi langkah preventif harus diperkuat,” tegasnya.
Selain itu, ia mengusulkan agar pelaku usaha di kawasan Pecatu diwajibkan memasang kamera pengawas atau CCTV yang mengarah langsung ke jalan raya. Menurutnya, keberadaan CCTV di ruang publik dapat membantu pengawasan sekaligus mempermudah penanganan kasus kriminal.
“Ke depan saya usulkan agar saat mengurus perizinan usaha, pemilik usaha diwajibkan memasang CCTV yang menghadap ke jalan. Itu bisa membantu pengawasan dan penanganan kasus kriminal,” katanya.
Ia berharap seluruh unsur mulai dari desa adat, desa dinas, aparat penegak hukum, pemerintah daerah hingga tokoh masyarakat dapat duduk bersama mencari solusi demi menjaga keamanan dan kenyamanan kawasan wisata Pecatu tetap kondusif. BWN-04

































