Sampah Dapur Disulap Jadi “Emas” Pertanian, PKM Unwar Latih KWT Bhuana Asri Buat Kompos Ramah Lingkungan

Iklan Home Page

Mangupura, Baliwakenews.com

Sampah organik rumah tangga yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata bisa menjadi “emas” bagi pertanian. Inilah yang dilakukan Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Warmadewa (PKM Unwar) di Kelompok Wanita Tani (KWT) Bhuana Asri, Br. Sandakan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, pada 9 Mei 2026.

Lewat pelatihan dan pendampingan intensif, para anggota KWT diajarkan cara mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos berkualitas untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

Program ini diketuai oleh Ir. A. A. S. Putri Risa Andriani bersama anggota tim Ir. Ni Ketut Mardewi dan Ratna Ayu Widiaswari. Kegiatan tersebut didukung pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Warmadewa.

KWT Bhuana Asri selama ini dikenal aktif memanfaatkan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman hortikultura seperti sayuran hijau, kol, dan cabai. Namun di balik aktivitas pertanian rumah tangga itu, pengelolaan limbah organik masih menjadi tantangan utama.

Baca Juga:  Badung Peringati Hari Disabilitas Internasional Tahun 2020

“Sampah sisa dapur dan limbah pertanian sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. Selain berpotensi mencemari lingkungan, kondisi ini juga menyebabkan pemborosan sumber daya yang sebenarnya dapat diolah kembali menjadi pupuk alami, ” ungkap Putri Risa.

Tak hanya itu, minimnya pemahaman anggota kelompok mengenai teknik pengomposan yang tepat membuat produksi kompos mandiri belum mampu menghasilkan kualitas yang maksimal.

Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian menghadirkan pelatihan praktis dengan metode layering atau metode berlapis. Teknik ini dilakukan dengan menyusun bahan organik kaya karbon seperti daun kering dan ranting, lalu dipadukan dengan bahan kaya nitrogen seperti rumput segar dan sisa sayuran secara bergantian di dalam wadah kompos.

Baca Juga:  Antisipasi Benda Asing Berbahaya, Bandara Ngurah Rai Gelar “FOD Cleaning”

Peserta juga diajarkan tahapan lengkap mulai dari persiapan wadah kompos, penyusunan lapisan bahan, pemberian aktivator seperti EM4 atau air cucian beras, hingga proses pemeraman dan pembalikan kompos secara berkala.

Lebih lanjut Putri Risa, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pengurangan sampah organik, tetapi juga membangun kemandirian kelompok tani dalam menyediakan pupuk ramah lingkungan.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap anggota KWT mampu memanfaatkan sampah organik rumah tangga menjadi kompos berkualitas yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan hasil pertanian,” ujarnya.

Antusiasme peserta terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Anggota KWT Bhuana Asri menilai pelatihan tersebut memberikan manfaat nyata karena selain membantu mengurangi limbah rumah tangga, penggunaan kompos juga dinilai mampu menekan ketergantungan terhadap pupuk kimia yang harganya terus meningkat.

Baca Juga:  Terima Pengurus MPKW Bali-NTB, Ketua DPRD Badung Harapkan Pancasila Ditegakkan Mulai dari Pendidikan Dasar

Program pemberdayaan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju sistem pertanian yang lebih mandiri, hemat biaya, dan berkelanjutan berbasis pengelolaan lingkungan masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun 2026 yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Warmadewa sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kapasitas kelompok tani dan pengembangan lingkungan berkelanjutan, ” pungkasnya. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR