Denpasar, Baliwakenews.com
Bali kembali jadi magnet forum internasional. Ratusan peserta dari 10 negara memadati ajang Rapat Kerja Nasional dan konferensi global yang digelar Asia Small Business Federation (ASBF) di Prama Sanur Beach Hotel, Kamis 23 April 2026. Momentum ini langsung dimanfaatkan Pemerintah Provinsi Bali untuk mendorong UMKM naik kelas dan menembus pasar dunia.
Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan, dipilihnya Bali sebagai tuan rumah bukan sekadar seremoni, tetapi peluang strategis untuk mengakselerasi ekonomi lokal berbasis UMKM dan pariwisata berkualitas.
“Ini bukan hanya forum, tapi peluang konkret untuk memperkuat UMKM Bali agar lebih kompetitif dan mampu masuk pasar internasional,” tegas Koster saat Gala Dinner, Kamis malam.
Efek ekonomi langsung pun terasa. Tingkat hunian hotel di lokasi acara disebut mencapai 85 persen—indikasi kuat bahwa kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) masih menjadi penggerak signifikan ekonomi Bali.
Tak hanya bicara bisnis, Koster juga menyoroti isu strategis lain: ancaman terhadap keberlanjutan budaya Bali akibat menurunnya pertumbuhan penduduk lokal. Ia bahkan menyinggung mulai langkanya nama tradisional seperti Nyoman dan Ketut.
Sebagai respons, Pemprov Bali kini menggulirkan insentif khusus bagi keluarga dengan anak ketiga dan keempat sebagai upaya menjaga identitas budaya.
“Pariwisata Bali hidup dari budaya. Kalau budaya melemah, daya tarik Bali juga ikut tergerus,” ujarnya.
Di sisi ekonomi makro, Koster memaparkan kinerja Bali yang relatif solid: pertumbuhan ekonomi 5,82 persen, tingkat kemiskinan 3,42 persen, dan pengangguran 1,45 persen—salah satu yang terendah secara nasional. Namun, ketergantungan pada sektor pariwisata masih menjadi tantangan utama.
Untuk itu, Bali kini didorong menuju transformasi ekonomi berbasis filosofi Tri Hita Karana melalui enam sektor prioritas, mulai dari pertanian hingga ekonomi digital.
Sementara itu, Presiden ASBF Indonesia, Peng Suyoto, menegaskan bahwa forum ini menjadi titik konsolidasi penting untuk memperkuat ekosistem UMKM lintas negara.
“ASBF adalah jembatan kolaborasi bisnis kecil di Asia. Fokus kami inovasi, teknologi, dan kemitraan berkelanjutan,” jelasnya.
Forum ini juga dihadiri sejumlah tokoh global, termasuk Mosaddak Ahmed Chowdhury dan Hermawan Kartajaya, yang menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam memperluas akses pasar UMKM.
Dengan kehadiran ratusan delegasi global, Bali tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga etalase kekuatan ekonomi berbasis budaya. Kini, pertanyaannya: mampukah momentum ini benar-benar mengangkat UMKM Bali ke panggung dunia?. BWN-03

































