Singaraja, Baliwakenews.com
Di tangan kreatif, limbah bukan lagi sekadar sampah. Di Kabupaten Buleleng, tumpukan masker bekas, kardus, plastik, dan kertas justru disulap menjadi karya seni bernilai tinggi. Inovasi itu dikenal dengan nama “Recycle Mask”, sebuah gerakan kreatif yang kini resmi memperoleh Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari pemerintah pusat.
Pengakuan tersebut menjadi momen membanggakan bagi masyarakat Buleleng. Sertifikat HKI diserahkan langsung kepada Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, oleh Menteri Hukum dan HAM Supratman Andi Agtas dalam seremoni di Balai Budaya Ida Dewa Agung Istri Kanya, Rabu (1/4/2026). Acara tersebut juga dihadiri Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri dan Gubernur Bali, I Wayan Koster.
“Recycle Mask” bukan sekadar karya seni biasa. Inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap lingkungan dengan memanfaatkan limbah yang kerap dianggap tidak bernilai. Masker bekas, plastik, kardus, hingga kertas diolah menjadi beragam produk kreatif, seperti topeng, dekorasi dinding, hingga miniatur ogoh-ogoh yang memiliki nilai estetika dan ekonomi.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menyampaikan bahwa pencapaian ini menjadi bukti bahwa kreativitas lokal mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
“Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini bisa menjadi karya seni dengan nilai ekonomi tinggi. Dengan adanya perlindungan hukum melalui HKI, para pelaku ekonomi kreatif akan semakin percaya diri untuk berinovasi,” ujarnya.
Menurut Sutjidra, Pemkab Buleleng terus mendorong masyarakat, khususnya pelaku ekonomi kreatif, untuk mengembangkan inovasi berbasis lingkungan. Pendampingan dan pembinaan juga terus dilakukan agar karya-karya lokal dapat berkembang dan memiliki daya saing.
Di balik kesuksesan “Recycle Mask”, terdapat sosok kreator lokal, Nyoman Sudiarta, yang melihat potensi besar dari limbah kardus. Ia memulai dengan mengolah kardus bekas menjadi topeng dan patung bernilai seni. Tak hanya membantu mengurangi sampah, karya-karyanya juga memberikan tambahan penghasilan.
“Saya melihat sampah kardus bukan hanya barang buangan, tapi punya nilai. Dari kardus saya bisa buat patung atau topeng, hasilnya bisa dijual. Jadi selain membantu lingkungan, saya juga bisa menambah pemasukan,” ungkap Sudiarta.
Pendekatan yang diusung “Recycle Mask” dinilai unik karena tidak hanya berfokus pada daur ulang, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang kepedulian terhadap lingkungan. Kreativitas tersebut sekaligus membuktikan bahwa solusi terhadap persoalan sampah dapat dimulai dari ide sederhana.
Kini, dengan pengakuan resmi melalui HKI, “Recycle Mask” diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. Buleleng pun kembali menunjukkan bahwa kreativitas lokal mampu bersaing, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi dan kelestarian lingkungan. BWN-03





























