Denpasar, Baliwakenews.com
Malam itu, panggung Gedung Kertha Sabha tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan. Ia berubah menjadi lorong waktu. Cahaya temaram menyinari para aktor yang menghidupkan kembali jejak sejarah Bali lewat drama “Blanjong” (Sayong ri Singha Dwara Pura), sebuah garapan Teater Agustus yang memadukan fakta sejarah dan tafsir artistik.
Di antara para penonton yang khidmat, tampak Putri Koster menyaksikan setiap adegan dengan saksama, Sabtu 14 Februari 2026. Pementasan ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Bulan Bahasa Bali ke-VIII yang tahun ini mengusung tema Atma Kerthi – Udianning Purnaning Jiwa, pemuliaan jiwa menuju kesempurnaan hidup.
Menyigi Sejarah Lewat Panggung
“Blanjong” bukan sekadar drama. Ia adalah semi-dokumenter yang berangkat dari keberadaan Prasasti Blanjong prasasti batu karang berusia sekitar 1.112 tahun yang ditemukan di wilayah Sanur. Prasasti ini diyakini sebagai salah satu peninggalan tertua di Bali, menjadi penanda eksistensi Kerajaan Singha Dwara Pura di bawah kepemimpinan Sri Kesari Warmadewa.
Melalui dialog, monolog, dan tata artistik yang kuat, sejarah yang selama ini tersimpan dalam teks dan artefak, dihidupkan kembali. Penonton diajak membayangkan suasana Bali masa lampau ketika kekuasaan, spiritualitas, dan kebudayaan membentuk peradaban awal pulau ini.
Tak ada kesan kaku seperti membaca buku sejarah. Dramaturgi yang diselipkan membuat kisah menjadi lebih cair dan menyentuh, tanpa kehilangan pijakan pada fakta.
Bahasa, Jiwa, dan Identitas
Bulan Bahasa Bali bukan hanya agenda seremonial tahunan. Ia adalah ruang refleksi kolektif tentang pentingnya menjaga bahasa, aksara, dan sastra Bali sebagai identitas. Pementasan “Blanjong” menjadi bukti bahwa pelestarian tidak selalu harus melalui ruang kelas panggung pun bisa menjadi medium pembelajaran yang kuat.
Tema Atma Kerthi terasa relevan. Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dimaknai sebagai bagian dari perjalanan jiwa masyarakat Bali. Ketika generasi muda menyaksikan kisah Sri Kesari Warmadewa dalam bentuk teater, mereka tidak hanya belajar tentang masa lalu, tetapi juga tentang jati diri.
Seni sebagai Media Edukasi
Pementasan oleh Teater Agustus ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan mampu menjembatani jarak antara generasi dan sejarah. Nilai-nilai budaya tidak lagi terasa jauh atau abstrak, melainkan hadir secara konkret melalui ekspresi tubuh, suara, dan emosi para aktor.
Kehadiran Putri Koster dalam pementasan tersebut sekaligus menegaskan dukungan terhadap gerakan kebudayaan yang mengedepankan pendekatan kreatif. Di tengah arus globalisasi dan derasnya budaya populer, langkah-langkah seperti ini menjadi penting agar warisan sejarah tidak sekadar menjadi artefak diam.
Di panggung Kertha Sabha malam itu, “Blanjong” bukan hanya drama. Ia adalah pengingat bahwa jejak sejarah Bali masih hidup bernapas dalam bahasa, bergerak dalam seni, dan tumbuh dalam kesadaran generasi hari ini. BWN-03


































