Doa dari Bali Utara untuk Nusantara Menyatukan Harapan Bangsa

Iklan Home Page

Singaraja, Baliwakenews.com

Pagi itu, Sabtu, 17 Januari 2026, Pura Penyusuhan di Kubutambahan, Buleleng, tak sekadar menjadi ruang ritual. Sejak matahari menanjak ke tengah langit, tempat suci itu menjelma menjadi titik temu kesadaran kolektif tentang alam yang perlu dijaga, tentang bangsa yang tengah diuji, dan tentang masa depan Indonesia yang ingin diarahkan dengan kebijaksanaan.

Di sanalah doa-doa dipanjatkan dalam peristiwa bertajuk “Doa Bersama untuk Negeri, dari Bali Utara untuk Nusantara.” Sejak pukul 10.00 WITA, lantunan doa mengalir, menyatukan harapan dari berbagai penjuru iman dan tradisi.

Acara ini diprakarsai oleh Marsekal TNI (Purn) Ida Bagus Putu Dunia, bersama Ida Pedanda Gde Oka Manuaba dari Dharma Ghosana Kabupaten Buleleng, serta Ida Dalem Semara Putra, Raja Klungkung. Momentum ini menjadi istimewa karena menghadirkan belasan penglingsir Bali yang tergabung dalam Paiketan Puri-Puri Se-jebag Bali, para sulinggih dan pedanda dari berbagai wilayah, serta tokoh-tokoh lintas agama.

Para perbekel se-Kecamatan Kubutambahan, tokoh-tokoh adat, pemuka agama, hingga unsur muspida seperti Dandim, turut hadir. Mereka duduk sejajar, menyatu dalam satu ruang batin: memanjatkan doa bagi negeri.

Baca Juga:  Refleksi SMSI Akhir Tahun 2024: Pilar Indonesia Emas 2045

Doa untuk Alam, Bangsa, dan Masa Depan

Doa yang dipanjatkan hari itu tidak hanya lahir dari kegelisahan atas rentetan bencana alam yang melanda berbagai daerah di Indonesia. Di baliknya, mengemuka pula satu niat besar: mengawal secara spiritual pembangunan Bandara Internasional Bali Utara.

Bagi Putu Dunia, doa ini bukan kepentingan wilayah semata. Ia melihat bandara sebagai bagian dari ikhtiar strategis nasional.

“Bali selama puluhan tahun menopang pariwisata nasional. Beban itu terlalu berat jika hanya dipikul Bali Selatan. Ketimpangan ini tidak sehat bagi Bali, bagi alam, dan bagi Indonesia,” ujarnya.

“Karena itu, pembangunan Bandara Internasional Bali Utara harus kita kawal, bukan hanya dengan kebijakan, tetapi juga dengan doa,” sambungnya.

Ketimpangan yang Terasa Nyata

Selama ini, denyut pariwisata dan ekonomi Bali bertumpu hampir sepenuhnya di wilayah selatan. Bandara I Gusti Ngurah Rai, sebagai pintu utama, menghadapi keterbatasan struktural: dikelilingi laut dan permukiman, ruang pengembangan yang sempit, serta tekanan kapasitas penumpang yang terus meningkat.

Dalam situasi puncak, bandara ini bekerja mendekati batas maksimal menyisakan risiko kepadatan, keterlambatan, dan tekanan lingkungan. Dampaknya terasa berlapis: kemacetan kronis di Bali Selatan, degradasi daya dukung alam, serta ketertinggalan pembangunan di Bali Utara, Barat, dan Timur.

Baca Juga:  Pemprov Bali Kerahkan ASN untuk Serap Hasil Pertanian Lokal di arena Pasar Pangan Murah

Di sinilah Bandara Internasional Bali Utara dipandang sebagai jalan korektif bukan sekadar alternatif teknis, melainkan strategi pemerataan dan keberlanjutan.

Simpul Baru Nusantara

Lebih jauh, Putu Dunia menegaskan makna geoekonomi dan geopolitik nasional dari bandara tersebut.

“Bandara Bali Utara tidak dirancang hanya untuk melayani Bali. Ia disiapkan sebagai hub pariwisata dan perdagangan Indonesia, terutama bagi Indonesia Timur NTT, Maluku, Papua. Ini adalah simpul konektivitas baru Nusantara,” tegasnya.

Dengan posisi geografis yang strategis, Bali Utara dinilai mampu menjadi penghubung arus manusia, barang, dan logistik antara barat dan timur Indonesia. Dalam pandangan ini, bandara bukan semata infrastruktur, melainkan instrumen persatuan ekonomi nasional.

Pembangunan dan Keseimbangan

Nada reflektif disampaikan Ida Dalem Semara Putra, Raja Klungkung. Ia mengingatkan bahwa pembangunan sejati harus berpijak pada keseimbangan.

“Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang tahu batas. Bali mengajarkan keseimbangan antara sekala dan niskala, antara kemajuan dan kelestarian. Doa ini menjadi pengingat agar Bandara Bali Utara dibangun dengan niat yang lurus dan manfaat yang luas,” katanya.

Baca Juga:  Tingkatkan Efisiensi Anggaran, Pemkab Buleleng Akan Perbarui Data Kepesertaan JKN PBI

Sementara itu, Ida Pedanda Gde Oka Manuaba menekankan dimensi spiritual dari setiap karya besar.

“Setiap pembangunan harus diawali dengan kesucian niat. Ketika keharmonisan dengan alam dan Sang Pencipta diabaikan, ketidakseimbangan akan datang dalam berbagai rupa,” tuturnya.

Doa yang Dilepaskan

Doa-doa kemudian dipanjatkan oleh para sulinggih dan pedanda rohaniawan yang dalam tradisi Hindu Bali telah melalui proses diksa dan menjadi penjaga dharma. Kehadiran pemuka agama lintas iman mempertegas pesan bahwa keselamatan bangsa dan pembangunan berkelanjutan adalah tanggung jawab bersama, melampaui sekat agama dan wilayah.

Dari Pura Penyusuhan, doa dilepaskan: untuk Indonesia yang tengah diuji, untuk Bali yang mencari keseimbangan baru, dan untuk Bandara Internasional Bali Utara sebagai simpul masa depan Nusantara. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR