Kuta, baliwakenews.com
Dua pejuang lingkungan asal Bali direncanakan akan mendapat penghargaan Kalpataru lestari dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH). Mereka ini merupakan bagian dari 12 penerima Kalpataru dari seluruh Indonesia yang penyerahannya rencananya akan dilakukan, Kamis (5/6/2025).
Kedua pejuang lingkungan asal Bali ini yaitu, yang pertama merupakan Ketua dari Komunitas Peduli Sungai Tukad Mati Lestari Kuta yang sebelumnya juga menerima Kalpataru selaku Kelompok Nelayan Prapat Agung Mengening Patasari, Kabupaten Badung.
Sebelumnya mendapatkan penghargaan kalpataru pada tahun 2019 atas penyelamatan sungai dan mangrove di Kawasan Konservasi Taman Hutan Raya yang dulunya rusak parah, kering, dan dijadikan tempat pembuangan sampah liar.
Saat ini kawasan dimaksud telah bertransformasi menjadi lingkungan hijau yang asri, hidup kembali secara ekologis, dan layak menjadi destinasi edukatif dan wisata.
Penerima penghargaan yang kedua adalah Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli. Sebelumnya Penglipuran juga telah menerima Kalpataru Penyelamat Lingkungan Tahun 1995 berkat keberhasilannya dalam memelihara dan melestarikan hutan bambu seluas 75 Ha. Selain itu juga secara konsisten melakukan pemilahan 14 jenis sampah dan menerapkan awig-awig antara lain larangan merusak lingkungan dan menjaga kebersihan desa.
Sekretaris Kementerian/Sekretaris Utama Kementerian LH/BPLH Rosa Vivien Ratnawati, mengungkapkan, selama 45 tahun sejak dimulai pada 1980 hingga tahun 2024, penghargaan Kalpataru telah menghasilkan pahlawan lingkungan sebanyak 428.
Dari total jumlah tersebut, dipilih lagi untuk diberikan penghargaan di tahun ini. Dia mengaku kesulitan melacak keberadaan dari ratusan penggiat lingkungan di seluruh Indonesia tersebut. Karena pegiat lingkungan yang sebelumnya telah mendapat penghargaan mulai dari tahun 1980-2024, ada yang sudah meninggal dunia. Termasuk juga ada yang tidak lagi melanjutkan kegiatannya serta ada yang keberadaannya tidak diketahui.
Karenanya, pihaknya meminta bantuan Dinas Lingkungan Hidup di daerah untuk melakukan pelacakan lebih lanjut. “Sarasehan ini merupakan momentum strategis untuk merefleksikan perjalanan dan capaian para pejuang lingkungan hidup selama 45 tahun terakhir. Selain itu juga untuk mengidentifikasi berbagai tantangan dan peluang ke depan dalam upaya pelestarian lingkungan,” ujarnya seusai membuka Sarasehan 45 Tahun Kalpataru, Rabu (4/6/2025), di Kuta 2025. BWN-04





























