Tempe, Makanan Tradisional Indonesia yang Menjadi Produk Mahal dan Premium di Eropa

Iklan Home Page

baliwakenews.com – Tempe, makanan tradisional berbasis kedelai yang berasal dari Indonesia, semakin dikenal di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa.

Namun, harga tempe di negara-negara Eropa jauh lebih mahal dibandingkan di Indonesia. Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa makanan sederhana yang murah di Indonesia bisa menjadi produk premium di Eropa?

Salah satu faktor utama yang membuat tempe mahal di Eropa adalah bahan bakunya. Kedelai yang digunakan untuk membuat tempe di Eropa sering kali merupakan kedelai impor yang berasal dari Amerika Serikat atau negara lain. Selain itu, banyak produsen tempe di Eropa menggunakan kedelai organik, yang harganya lebih mahal dibandingkan kedelai konvensional.

Proses produksi tempe di Eropa juga lebih rumit dibandingkan di Indonesia. Di negara-negara dengan iklim yang lebih dingin, fermentasi tempe memerlukan kontrol suhu dan kelembaban yang ketat agar ragi tempe dapat bekerja dengan baik. Proses ini menambah biaya produksi, baik dari segi energi maupun teknologi yang digunakan.

Baca Juga:  Harga Material Bangunan Terus Naik, Harga Rumah Subsidi Diprediksi Meningkat Tahun ini

Di Eropa, tempe menjadi salah satu sumber protein nabati favorit di kalangan vegetarian dan vegan. Dengan meningkatnya tren pola makan berbasis tumbuhan, permintaan terhadap tempe semakin tinggi. Namun, produksi tempe di Eropa masih terbatas karena jumlah produsen yang tidak sebanyak di Indonesia. Akibatnya, hukum ekonomi sederhana berlaku: semakin tinggi permintaan dan semakin sedikit ketersediaan, maka harga pun meningkat.

Selain itu, tidak semua supermarket di Eropa menyediakan tempe. Produk ini umumnya hanya tersedia di toko makanan Asia, toko makanan organik, atau supermarket khusus vegan. Hal ini membuat distribusi tempe lebih terbatas, yang juga berkontribusi pada harga jualnya yang tinggi.

Produk makanan yang beredar di Eropa harus memenuhi standar keamanan dan kebersihan yang ketat. Tempe yang dijual di Eropa harus diproduksi dalam fasilitas yang memenuhi standar Uni Eropa, termasuk dalam hal kebersihan, kualitas bahan baku, dan proses produksi. Hal ini menyebabkan produsen tempe harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan sertifikasi dan memastikan produknya memenuhi regulasi yang berlaku.

Baca Juga:  Pemerintah Mengumpulkan Pajak Atas Usaha Ekonomi Digital Hingga Maret Sebesar RP. 23,04 Triliun

Jika tempe dijual sebagai produk organik atau bebas GMO (genetically modified organism), maka harga jualnya bisa semakin mahal. Konsumen Eropa cenderung lebih peduli dengan aspek kesehatan dan keberlanjutan, sehingga mereka bersedia membayar lebih untuk produk yang memenuhi standar tersebut.

Beberapa tempe yang dijual di Eropa diimpor langsung dari Indonesia atau negara lain yang memiliki industri tempe lebih maju, seperti Belanda. Namun, impor makanan memerlukan biaya tambahan, termasuk bea cukai, pajak, serta biaya pengiriman dan penyimpanan. Tempe segar juga harus disimpan dalam kondisi tertentu agar tidak cepat rusak selama proses distribusi.

Baca Juga:  Dinas Pertanian Terjunkan Tim dokter Hewan

Selain itu, karena tempe adalah produk fermentasi yang memiliki umur simpan terbatas, proses pengirimannya harus dilakukan dengan cepat dan dalam kondisi yang sesuai. Hal ini menambah biaya operasional, yang akhirnya tercermin dalam harga jualnya di pasar.

Dengan semua faktor di atas, harga tempe di Eropa bisa mencapai €3 hingga €7 atau Rp130.000 per 200-400 gram, tergantung pada merek, jenis kedelai yang digunakan, serta tempat penjualannya. Bandingkan dengan harga tempe di Indonesia yang hanya berkisar Rp5.000 hingga Rp15.000 per kilogram, selisihnya sangat jauh. BWN-01

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR