Kisah Tragis di Balik Penemuan Jasad Pasutri Muda di Pantai Padanggalak, Putri Kecilnya Menunggu di Rumah

Iklan Home Page

Denpasar, baliwakenews.com – Matahari baru saja naik di langit Denpasar, menyapu pasir Pantai Padanggalak dengan cahaya keemasan. Namun, keindahan pagi itu mendadak ternoda oleh kabar duka. Di sebuah pos nelayan, pasangan suami istri ditemukan tak bernyawa, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan orang-orang yang mengenal mereka.

Pasangan muda itu adalah Dewa Ayu Sri Astini (25) dan I Putu Pastika (26). Tiga tahun lalu, mereka mengikat janji suci sebagai suami istri, membangun rumah tangga dengan penuh harapan. Dari pernikahan mereka, lahir seorang anak perempuan yang kini harus tumbuh tanpa kedua orang tuanya. Namun, di balik pernikahan mereka yang tampak bahagia, ternyata ada luka yang tak terlihat.

Satu Tahun Tanpa Kabar

Dewa Ketut Astika (54), ayah dari Sri Astini, tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Suaranya bergetar saat mengisahkan bagaimana hubungan putrinya dengan keluarga terputus selama satu tahun terakhir. Tidak ada kabar, tidak ada komunikasi. Hingga akhirnya, kabar yang datang justru menjadi pukulan paling memilukan.

Baca Juga:  Dukung Inovasi Seni Musik di Tabanan, Bupati Sanjaya Apresiasi Sanggar Nolin Pupuan Yang Mendunia

“Terakhir kami bertemu, dia masih baik-baik saja. Tidak menyangka akan berakhir begini,” lirihnya.

Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka selama satu tahun terakhir. Apakah ada tekanan? Apakah mereka tengah menghadapi masalah yang begitu berat hingga memilih jalan tragis ini? Jawaban itu mungkin hanya akan terkubur bersama mereka.

Petaka di Pos Nelayan

Pagi itu, sekitar pukul 07.00, seorang petugas parkir melihat dua tubuh tergeletak di pos nelayan Sari Mertha Segara. I Gede Tulus Suka Yasa, petugas jaga di Taman Festival, segera diberitahu. Sontak, kabar ini menyebar cepat. Warga berdatangan, begitu pula pihak kepolisian yang segera melakukan olah TKP.

Baca Juga:  Sembunyikan di Sandal Jepit, Dua Warga Aceh Selundupkan 1 Kg Sabu ke Bali

Di dekat kepala korban, ditemukan dua botol cairan berwarna coklat tanpa label. Diduga, cairan itu adalah insektisida yang mereka tenggak bersama. Tidak ada tanda kekerasan pada tubuh mereka, memperkuat dugaan bahwa ini adalah keputusan yang mereka buat sendiri.

“Kami masih menyelidiki motifnya. Dugaan sementara, mereka meninggal akibat menenggak cairan beracun,” kata Kasi Humas Polresta Denpasar, AKP Ketut Sukadi.

Luka yang Tertinggal

Di rumahnya, seorang anak perempuan kecil mungkin belum benar-benar memahami apa yang terjadi. Ia kehilangan ayah dan ibunya dalam satu waktu. Sementara itu, keluarga yang ditinggalkan hanya bisa mengenang kebersamaan yang pernah ada, bertanya-tanya, apakah ada tanda-tanda yang terlewat?

Baca Juga:  Diduga Gara-gara Asam Lambung, Wanita Paruh Baya Akhiri Hidup

Tragedi ini bukan sekadar berita duka, tetapi juga pengingat bahwa di balik kehidupan seseorang, ada beban yang mungkin tak terlihat oleh mata. Tekanan hidup, perasaan terasing, atau masalah yang tampak kecil bisa menjadi lautan yang dalam dan sunyi.

Di Pantai Padanggalak, angin tetap berembus, ombak tetap bergulung. Tapi bagi mereka yang mengenal Sri Astini dan Putu Pastika, pantai itu kini menyimpan kenangan pahit. Sebuah kisah cinta yang berakhir dalam sunyi, meninggalkan duka yang mendalam bagi mereka yang ditinggalkan. BWN-01

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR