Badung, Baliwakenews.com
Cabang olahraga (cabor) petanque di ajang Porjar Badung telah usai digelar di Lapangan Petanque Gerana, Abiansemal, Badung, Jumat (10/3). Setelah ini, para juara masing-masing tingkat pelajar akan dikumpulkan dan digelar talent atau istilahnya diseleksi kembali.
Ketua Harian Pengkab Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) Badung, I Nengah Ardina saat dijumpai di sela-sela pertandingan menjelaskan, talent itu dilakukan untuk mencari kuota atlet. Karena regulasi di Porjar Bali nanti, setiap cabor kuotanya dibatasi. Sehingga tidak semua juara Porjar Badung ini nantinya menjadi wakil Badung di Porjar tingkat Provinsi Bali mendatang.
“Di cabor petanque, kuota per tingkat pelajar itu hanya diberikan 3 putra dan 3 putri. Jadi kami harus mencari yang terbaik dari juara-juara ini yang nantinya turun di 11 kategori,” ujar Nengah Ardina.
Kata Ardina, yang ingin dicari dalam talent nanti yakni skill, mental, dan kesiapan atlet itu sendiri karena nantinya mereka akan merangkap di lebih satu kategori. Sehingga dibutuhkan kematangan dan dalam talent itu akan dicari yang terbaik.
Karena target Petanque Badung di Porjar Bali nanti bisa meningkat dari tahun sebelumnya. Saat Porjar Bali terakhir kali digelar pada tahun 2018 lalu, Badung berada di bawah Tabanan. Hanya kalah perak saja, sedangkan emas nya sama-sama 11 keping.
Terkait pelaksanaan Porjar Badung kali ini, Ardina mengapresiasi karena peserta jauh meningkat yakni 600 lebih dari tiga tingkat pelajar. Bahkan terjadi pemerataan dari Badung Utara hingga Badung Selatan.
“Dari enam kecamatan semua ada wakilnya dari SD sampai SMA. Ini artinya pemerataan terjadi dan potensi memunculkan bibit semakin besar yang nantinya menjadi atlet binaan FOPI Badung,” serunya.
Dan menariknya peserta yang tampil ini berkelanjutan. Dari pantauannya ada yang dulunya mewakili SD, sekarang berlanjut ke SMP. Begitu juga yang dulunya masih SMP sekarang tampil lagi membela SMA nya. “Jika terus konsisten bukan tidak mungkin membela Badung dalam Porprov atau Bali di tingkat yang lebih tinggi,” tandas Ardina.
Sementara salah satu wasit yang mengawasi pertandingan, Made Dwi Widyartawan menambahkan dalam Porjar Badung kali ini antusias dan animo peserta sangat luar biasa. Namun masih ada ditemukan peserta yang melakukan pelanggaran saat bertanding.
Beberpa contohnya pelanggaran itu seperti berteriak atau bersuara keras saat bertanding. Sesuai aturan, hal ini tidak diperbolehkan karena akan mengganggu konsentrasi lawan. Kemudian ada aturan ketika bola lemparan pertama, bekas jatuhnya hanya boleh dihapus sekali. “Tapi saya lihat ada yang menghapusnya berkali-kali,” bebernya.
Kata Widyartawan aturan ini sebenarnya fundamental atau basic, tapi diharapkannya ke depan pelanggaran seperti ini bisa diminimalisir. “Kalau dari permainan semua sudah bagus, tinggal pemahaman aturan saja yang perlu diketahui oleh atlet,” tandasnya. BWN-06
































