Bukan Sebatas Hiburan, Inilah Makna Ngelawang Barong Bangkung Bagi Umat Hindu

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com

Seni dan budaya begitu beragam di Pulau Bali. Berbagai bentuk kesenian telah menyatu dalam tatanan sosial dan agama masyarakat. Barong Bangkung atau Dalon merupakan salah satu warisan leluhur warga Bali yang hingga kini masih dilestarikan.

Kesenian Barong Bangkung paling digemari anak-anak dan remaja. Dan biasa dipentaskan saat Hari Raya Galungan dan Kuningan. Pementasan tersebut biasa disebut ngelawang. Para penari atau sekha Barong Bangkung lazimnya anak-anak dan remaja.

Meski ada beberapa yang disakralkan di beberapa wilayah di Bali, namun umumnya Barong Bangkung dipentaskan ke desa-desa. “Selain hiburan, ngelawang juga bertujuan untuk menolak bala atau melebur bhuta kala. Barong baru dipentaskan saat ada warga yang ngupah (saweran),” kata I Nyoman Ladra, pemilik Sanggar Tari Dalon di Perumahan Dalung Permai, Dalung, Kuta Utara.

Baca Juga:  Luh De Harapkan Badung Subsidi Sekolah Swasta

Menurut Ladra, banyak masyarakat yang tidak mengerti tentang makna ngelawang. Bahkan ada yang menyamakan dengan hiburan topeng monyet atau ondel-ondel. “Ngelawang itu warisan leluhur Bali yang syarat akan makna. Ngelawang ini bukan hanya hiburan semata agar mendapatkan saweran. Ini berkaitan dengan budaya ritual melebur Bhuta Kala dan membawa keberuntungan dan kesuburan,” kata pria berusia 52 tahun itu dengan pandangan tajam.

Proses pembuatan Barong Bangkung dan pakem tariannya tidak boleh sembarangan. Pembuatan barong harus mencari hari baik. Kemudian tidak ditempatkan sembarangan saat pementasan, misalnya diletakan di pinggir jalan atau di got. “Di sanggar ini saya langsung membuat sekaligus mementaskan. Sebelum ngelawang, barong akan diupacarai dan memohon air suci atau tirta ke gria,” beber Ladra.

Baca Juga:  Rancangan Perubahan KUA-PPAS 2024 Ditetapkan

Ladra mengatakan, sanggar yang dikelolanya memiliki sekha yang berjumlah 27 orang. Mereka semua rata-rata remaja dan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah. Tak hanya ngelawang Barong Bangkung, sanggar tersebut juga mementaskan tari-tarian dan lainnya. “Kadang menari atau megambel untuk upacara dewa yandya atau pentas untuk hiburan,” ucap pria kelahiran Perean, Baturiti, Tabanan itu.

Baca Juga:  Terus Berlanjut Sosialisasi SP4N LAPOR! di Badung

Menariknya, sekha Sanggar Dalon tersebut tidak hanya beragama hindu. Melainkan ada yang muslim, kristen dan Budha. Meski beda agama dan budaya, anak-anak di sanggar tetap solid dan kompak. “Mereka (sekha di luar Hindu) yang datang ke saya meminta ikut bergabung. Bahkan saya sempat bertanya ke sekha yang muslim jika Barong Bangkung merupak berbentuk babi apakah tidak takut dilarang orang tuanya, namun ternyata tidak masalah karena ini hanya tarian dan kesenian,” kata Ladra dengan senyum mengembang. bwn-01

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Nyepi Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemkab BadungIklan Idul Fitri Pemprov. BaliIklan Nyepi Pemprov. BaliIklan BWNIklan Nyepi PDAM BadungIklan Nyepi DPRD Badung Iklan UNWAR