Tanjung Benoa, baliwakenews.com
Keberadaan Pura-Pura Umat Hindu di Bali tidak saja bagian dari bukti sejarah adanya kebudayaan. Tapi tempat suci umat hindu Bali ini juga sebagai bukti adanya akulturasi budaya antar agama. Tim Baliwakenews pun menemukan keberadaan pura yang sangat kental dengan alkulturasi budaya antara muslim, tionghoa dan hindu. Pura unik tersebut adalah Pura Dalem Karang Tengah, Desa Adat Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan. Di areal pura tersebut terdapat pelinggih berisikan patung orang muslim dan patung orang cina.
Ketua Pengempon dan Penyungsung Pura Dalem Karang Tengah Desa Adat Tanjung Benoa I Wayan Mintha mengatakan, terkait sejarah Pura Dalem Karang Tengah ini sebenarnya awal pura ini berada di pesisir kawasan Pantai Tanjung Benoa.”Dulu mungkin leluhur kami sering melewati laut lalu leluhur kami membuatkan pelinggih. Lala-lama kondisi pelinggih di pinggir pantai tersebut kena abrasi lalu dipindahkan di tempat ini yang dulunya masih hutan rimba,’’ujarnya.
Lebih lanjut Mintha menjelaskan, untuk tahun pembangunannya pihaknya tidak tahu secara persis begitu juga kakek dan orang tuanya juga tiding mengetahui kapan pura ini dibangun. Namun ada bukti-bukti sejarah ada hubungan pertemanan dan hubungan dagang dengan masyarakat jawa serta masyarakat cina. ’’Selain itu ada bukti patung cinderamata berupa gajah-gajah perunggu dan saat ini masih ada dan kami gunakan pecanangan untuk disungsung di pura ini,”paparnya.
Ditanya keberadaan pelinggih dengan patung orang cina dan orang muslim jawa di pura ini, Mintha mengatakan, hal ini ada hubungan leluhurnya yang sangat dekat dengan masyarakat muslim jawa dan masyarakat Tionghoa dari cina yang saat itu melakukan hubungan dagang di perairan laut Tanjung Benoa. “Dulu perdagangan cina mungkin langsung ke Pelabuhan Benoa sehingga terjadilah hubungan dagang antara cina dengan jawa. Selain itu hubungan erat leluhur kami dengan masyarakat muslim jawa, di Pura ini dibuatkan tradisi tarian ludruk persis tariannya itu seperti tarian ludruk di jawa. Karena lama tidak ada yang meneruskan tradisi itu akhirnya bubar,terangnya.
Untuk penyungsung pura ini awalnya satu keluarga saja dan berkembang hingga saat ini sudah menjadi 19 Kepala Keluarga. “Puri ini adalah Pura Penyiwi atau Penyawan jadi siapapu boleh bersembahyang disini tidak terbatas. Masyarakat Tanjung benoa juga banyak yang bersembahyang disini. Yang melinggih di Pura ini adalah Ida Bhatara Karang Tengah, Ida Ratu Gede Ngurah Subandar, Ida Dalem Mekah, Ida Dalem Solo,”ungkapnya.
Terkait upacara dan sesasen Mintha mengatakan, untuk sesajen di Pura ini sama sekali tidak menggunakan sarana daging babi. “Hingga saat ini kami tidak berani melanggar bisama ini dan sampai saat ini kami tidak berani melanggarnya. Dan untuk pelaksanaan pujawali dilaksanakan setiap rahinan Tumpek landep,”jelasnya. BWN-05


































