Kintamani, baliwakenews.com
Buah busuk yang selama ini menjadi sampah, ternyata dapat diolah menjadi pupuk organik cair ( POC) dengan teknologi yang sederhana. Meski demikian belum banyak petani yang mengetahui dan bisa mempraktekkan hal tersebut sehingga menggugah Program Kemitraan Wilayah Universitas Warmadewa ( PKM Unwar) untuk melakukan transfer teknologi seperti yang dilakukan di Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.
Ketua Tim Program Kemitraan Wilayah Universitas Warmadewa ( PKM Unwar), Ir. A. A. Ngurah Mayun Wirajaya,MM., mengatakan transfer teknologi pembuatan POC kepada petani sangat penting dilakukan sehingga petani dapat menekan biaya pupuk dandan memanfaatkan sampah organik disekitarnya. Untuk itu Tim PKM Unwar kali ini melakukan pengabdian dengan mengusung tema “PKM Pemanfaatan Limbah Jeruk Dan Budidaya Cabai
Pada Kelompok Wanita Tani Widya Pertiwi Di Desa Belantih, Kintamani, Bangli, Bali” pada Mei 2021.
Dikatakan Desa Belantih, Kintamani merupakan sentra penghasil produk hortikultura, perkebunan kopi dan jeruk yang dominan. Sebagian besar masyarakat Desa Belantih masih mengandalkan bekerja di sektor pertanian sebagai sumber penghasilan utama. Buah-buahan termasuk jeruk memang mudah busuk, tapi sayang sekali jika dibuang begitu saja dengan alasan sudah busuk.
“Dari pada limbah makanan tersebut jadi mubazir, lebih baik kita belajar tentang cara membuat pupuk organik dari buah busuk. Mengubah buah-buahan busuk menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pupuk bukanlah hal yang sulit untuk dikerjakan. Maka dalam proses pembuatan pupuk organik dari buah busuk ini hanya perlu sedikit modifikasi baik dari alat dan bahan maupun dari cara pengerjaannya, ” tutur A. A Ngurah Mayun, saat ditemui di kampus Unwar, Rabu 2 Juni 2021.
Buah pada umumnya mengandung banyak air, oleh sebab itulah, lebih cocok diolah menjadi pupuk organik cair, atau yang biasa dikenal dengan sebutan POC.
Cara pembuatannya sangat sederhana yaitu dengan menyiapkan gentong atau ember yang bervolume 50 liter yang berpenutup, masukkan limbah buah jeruk atau lainnya yang sudah tidak termanfaatkan, air kelapa, air cucian beras, molase/gula merah dan air biasa yang sudah diperhitungkan takarannya. Dengan melakukan pemeraman 3 minggu akan didapatkan POC yang sudah siap untuk diaplikasikan dilahan pertanian dengan konsentrasi tertentu baik cara kocor maupun diberikan lewat daun.
Ketua Tim Ir. A. A. Ngurah Mayun Wirajaya,MM., bersama anggota Ir. Made Sri Yuliartini ,M.Si., Dr.Ir. I Gusti Bagus Udaya,M.Si., Dr.Ir Ida Bagus Komang Mahardika ,M.Si., dan Ir. Luh KartiniI ,M.Si., melakukan identifikasi persoalan yang dihadapi KWT Widya Pertiwi Di Desa Belantih. “Selama ini limbah jeruk yang dibudidayakan petani belum dimanfaatkan, padahal bisa mendapatkan nilai ekonomi yang lebih tinggi, ” ucapnya.
Lebih lanjut dikatakan anggota kelompok belum paham terhadap proses fermentasi limbah jeruk sehingga limbah jeruk belum dimanfaatkan dan diolah untuk dijadikan POC. KWT juga belum memilikinya peralatan dan bahan untuk melakukan pengolahan.
“Oleh karena itu kelompok mitra perlu difasilitasi dari aspek teknologi pengolahan limbah jeruk, pemilahan limbah jeruk, dan manajemen usaha kelompok mitra, ” tukasnya.
Sehingga dengan kegiatan PKM ini ada peningkatan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam pembuatan POC, serta termanfaatkannya limbah jeruk sebagai pupuk organik cair dalam mensubstitusi penggunaan pupuk anorganik yang ada di wilayah mitra. Selain itu, dapat menjadi alternatif bahwa limbah jeruk cair bagi masyarakat disekitar mitra dapat dipakai sebagai pupuk organik dalam pemupukan tanaman yang dibudidayakan selain pupuk-pupuk organik dari sapi dan ayam yang telah digunakan saat ini .
“Sentuhan teknologi dalam pengolahan limbah jeruk diharapkan memberi nilai tambah yang tinggi bagi kelompok wanita tani mitra untuk dimanfaatkan oleh anggota kelompok, ” tandasnya.
Selain transfer teknologi pengolahan POC, KWT Widya Pertiwi juga ingin mengembangkan budidaya cabai merah, maka dilakukan persiapan yang matang baik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman dari pembibitan sampai panen. Pemilihan varietas tanaman cabai yang cocok dikembangkan di daerah tertentu menjadi penting
“Sampai saat ini anggota KWT sudah biasa melakukan penanaman cabai di lahan namun belum menerapkan teknologi. Makan kami memberikan pengetahuan cara pemanfaatan teknologi dalam budidaya cabai, sehingga menghasilkan produk yang dapat bersaing dipasar, ” katanya.
Melalui PKM Unwar anggota KWT telah mampu mengadopsi dengan baik terhadap berbagai perkembangan teknologi dan akan dikembangkan di wilayah KWT yang sebelumnya tidak dilakukan saat tersedianya limbah jeruk cukup melimpah pada musim panen jeruk dan dimanfaatkan untuk POC. Alih teknologi tentang cara penyemaian dan pembibitan yang dikembangkan dan beberapa teknologi budidaya lainnya juga telah dapat diadopsi dengan baik oleh anggota KWT.
Dengan semakin dipahami tentang pemanfaatan limbah jeruk dan budidaya cabai untuk produk POC dan penyemaian ,pembibitan telah dipraktekkan bagaimana limbah jeruk tersebut mempunyai nilai tambah yang cukup tinggi bagi kelompok dan budidaya cabai yang benar sejak awal memberi dampak pada produksi yang baik di lapang.
“Dengan adanya pengabdian ini anggota kelompok termotivasi melakukan kegiatan lebih aktif dan manajemen organisasi berjalan lebih baik. PKM juga mampu meningkatnya kesadaran anggota kelompok memanfaatkan limbah jeruk sebagai sumber pupuk organik cair dan dapat diberikan pada tanah serta tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, ” pungkas Dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa tersebut. *BWN-03

































