Wujudkan Kemandirian Pangan Di Era ‘New Normal’

Prof.Dr. Ir. I Gede Suranaya Pandit, M.P., Koordinator Prodi Magister Sains Pertanian Program Pascasarjana Universitas Warmadewa (MSP PPS Unwar).

Denpasar,baliwakenews.com

PDAM

Indonesia, khususnya Bali selama ini masih sangat tergantung pada impor komoditas pertanian strategis. Prof.Dr. Ir. I Gede Suranaya Pandit, M.P., Koordinator Prodi Magister Sains Pertanian Program Pascasarjana Universitas Warmadewa (MSP PPS Unwar), Rabu (3/6) di kampus setempat mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar yang bila digarap maksimal akan mampu mewujudkan kemandirian pangan khususnya dalam kondisi pandemi Corona Virus Deasis 2019 (Covid-19) saat ini.

Dalam masa pandemi Covid-19 yang saat ini pemerintah telah mencanangkan ‘new normal’ dikatakan, pertanian akan memegang peranan sangat penting karena Indonesia tidak dapat hanya bergantung dari impor komoditas pertanian. “Kita ingin swasembada di bidang pertanian dalam arti luas. Sumberdaya yang kita miliki cukup besar, bisa dikelola secara mandiri dan profesional,” tutur pria yang pernah menjabat Direktur PPS Unwar selama dua periode sebelumnya.

Unwar

Dengan demikian dikatakan Indonesia tidak lagi tergantung pada negara lain. Untuk itu SDM di bidang pertanian harus memiliki kwalifikasi unggul, sehingga pertanian tidak lagi dikelola dengan setengah hati dan asal – asalan.

“Mewujudkan hal tersebut, kami mendirikan prodi magister sains pertanian (MSP) sehingga SDM pertanian bisa berdikari dan berswasembada pangan dalam arti luas,” ungkapnya.

Hasil pertanian ditargetkan akan memiliki kwalitas yang jauh lebih bagus dari saat ini. Karena produksi tidak lagi dilakukan secara tradisional, sehingga menghasilkan produk agronomi, peternakan, perikanan dan pengolahan hasil melalui teknologi pertanian yang memenuhi kwalitas untuk pariwisata.

“Di strata dua ini, akan digodok SDM yang mampu memproduksi komoditas pertanian dengan hasil yang berkualitas dan bisa diterima oleh sektor pariwisata,” tandas Prof. Pandit.

Jadi tidak ada lagi keraguan sektor pariwisata untuk menggunakan produk pertanian dalam negeri dan produk lokal Bali khususnya. Sehingga tidak perlu lagi mengimpor komoditas pertanian karena sudah dapat dipenuhi oleh produksi lokal yang memenuhi standar internasional.

Terkait kendala alih fungsi lahan di Bali, dikatakan harus menggunakan teknologi memanfaatkan lahan sempit yang ada namun menghasilkan produk yang berkualitas seperti penggunaan ‘green house’. “Tapi lahan sempit sebenarnya memiliki keunggulan yaitu pengelolaan lebih gampang dan hasilnya bisa lebih berkualitas,” ucapnya. Sehingga swasembada tercapai sekaligus dapat memenuhi kebutuhan sektor pariwisata.

Untuk diketahui, Prodi MSP yang baru dibuka tahun ini, ingin mengadopsi seluruh sarjana ilmu pertanian dalam arti luas termasuk perikanan, peternakan, ilmu teknologi pangan dan agronomi termasuk dari program eksata lainnya seperti MIPA, kimia dll. Pendidikan dapat ditempuh 1,5 tahun hingga 4 tahun, tergantung kemampuan masing-masing. “Saat ini pendaftaran dilakukan secara online, kami buka hingga akhir Agustus,” pungkas Prof. Pandit.*BW-09

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: