Tolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja, Suyasa Sebut Rugikan Pekerja

FSP- Federasi Serikat Pekerja (FSP) Bali saat melakukan rapat kerja terkait nasib para pekerja yang cukup banyak di PHK di Bali.

Mangupura, baliwakenews.com
Rancangan Omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja yang dibahas di pusat, menjai sorotan para pekerja di Bali. Bahkan, Serikat pekerja yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja (FSP) Bali terang terangan melakukan penolakan RUU tersebut.
Ketua Federasi Serikat Pekerja (FSP) Bali Cabang Badung I Wayan Suyasa, usai menghadiri rapat terbatas jajaran pengurus DPD FSP Bali di Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kamis (23/4) mengatakan, sesuai kesepatan bersama DPD FSP Bali menyangkut may day atau hari buruh, pihaknya bersama para pekerja di Bali khususnya Badung tidak akan turun ke jalan melakukan untuk aksi. DPD FSP Bali akan memilih menyampaikan aspirasi tertulis kepada pemerintah pusat melalui pemerintah Provinsi Bali. “Intinya kami menolak omnibus law RUU Cipta Kerja, karena sangat merugikan pekerja secara menyeluruh,” tandas Suyasa.

PDAM

Hal senada juga disampaikan Ketua DPD FSP Bali I Putu Semara Kandi. Menurut dia, berdasarkan kesepakatan bersama DPD FSP Bali, aspirasi tertulis yang akan disampaikan kepada pemerintah pusat berisi 8 poin. Poin utamanya penolakan terhadap omnibus law RUU Cipta Kerja.“Setelah memperhatikan RUU Cipta Kerja, kami dari federasi serikat pekerja Bali dengan tegas menyatakan menolak RUU tersebut untuk disahkan menjadi undang-undang,” tegasnya.
Usia menggelar rapat kerja, para anggota Federasi Serikat Pekerja Bali juga ikut diterapi reiki oleh perkumpulan reiki Indonesia. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tingkat stress para pekerja menghadapi wabah virus corona yang melanda duia kerja mereka. BW-05

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: