Soal Hare Krisna Pesemetonan Dukuh dan Pasek Ajak Warganya Tak Terprovokasi

Pertemuan Pesemetonan Dukuh dan Pasek

Denpasar, baliwakenews.com

PDAM

Tekanan, hujatan dan desakan agar tuntutan terhadap keberadaan Hare Krisna/ISKCON di Bali dibubarkan dan dilarang melakukan kegiatan spiritual, sampai ke ashram agar diputuskan PHDI Bali, mendapat perhatian organisasi pesemetonan Pasek dan Dukuh. Pesemetonan membuat pernyataan bersama untuk mengantisipasi kericuhan yang mungkin saja bisa terjadi di masyarakat.

Pernyataan Bersama Pesemetonan Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi Kabupaten/Kota se-Bali ditandatangani oleh Ketua/Perwakilan Mahagotra Kabupaten, antara lain Mangku Gede Susila (Kota Denpasar), I Wayan Madia (Kabupaten Badung), I Gede Pawana (Kabupaten Karangasem), I Made Suwardika (Kabupaten Tabanan), I Ketut Kayana (Kab. Bangli), I Wayan Sudiarsa (Kab. Klungkung), I Wayan Darwin (Kab. Jembrana).

Unwar

Sementara Pernyataan Pesemetonan Dukuh Bali diuraikan dalam Pernyataan Sikap, ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal I Nengah Puspa, S.Pd.M.Si dan Ketua Umum I Made Dauh Suansara, S.Pd.

Pernyataan sikap dibuat karena kewenangan keputusan ada di PHDI Pusat, dan bukan di PHDI Bali, mereka menegaskan dan menyerahkan agar keputusannya diambil oleh PHDI Pusat dan diserahkan sesuai dengan mekanisme dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PHDI.

Hal itu ditegaskan dalam pernyataan tertulis, sebagai imbauan kepada Semeton Pasek dan Semeton Dukuh Bali, maupun semua Krama Bali, agar tidak ikut melakukan hujatan ke lembaga PHDI Bali maupun PHDI Pusat, menyangkut persoalan Hare Krisna ini.

‘’Kami tidak mau antar Semeton saling hujat, apalagi menghujat PHDI. Kita percayakan penuh PHDI Pusat sebagai lembaga yang berwenang untuk memutuskan masalah HK ini, atas masukan dari PHDI Bali,’’ kata Mangku Gede Susila.

Mahagotra mengajak Semeton Pasek tidak sampai ikut menyerang, mencaci, tetapi kalau ada pikiran dan konsep yang bagus, disampaikan saja secara elegan ke PHDI Bali ataupun PHDI Pusat.

Dua Pesemetonan ini mengimbau masyarakat tidak memaksakan kehendak, memaksa PHDI Bali membubarkan HK, dan memutuskannya di PHDI Bali sendiri. Apalagi memaksa PHDI Bali menentang PHDI Pusat.

Dibentuknya Tim Kerja oleh PHDI untuk menginventarisasi masukan dan aspirasi masyarakat Bali menyangkut HK, sudah sangat baik, walaupun Surat Pengayoman HK diterbitkan oleh PHDI Pusat. Karena sesuai dengan AD/ART PHDI, keberadaan sampradaya diatur dalam pasal 41 Anggaran Dasar, dan dikeluarkan Surat Pengayoman oleh PHDI Pusat berlandaskan AD PHDI tersebut, maka yang bisa mencabutnya tentu PHDI Pusat, bukan PHDI Bali.

Selain Pesemetonan diatas, imbauan untuk menyerahkan penyelesaian aspirasi tentang HK diselesaikan PHDI Pusat juga dilontarkan melalui imabauan bersama organisasi, seperti MDA-PHDI Kabupaten/Kota se-Bali.

Untuk diketahui PHDI Bali serta Tim Kerja yang dibentuk guna menginventarisasi berbagai aspirasi terkait keberadaan HK ini sudah bekerja keras dan pada tahap pertama sudah melaporkan hasil kerjanya ke PHDI Pusat, diterima langsung Ketua Umum PHDI Pusat, Wisnu Bawa Tenaya, Kamis 30 Juli 2020. Lalu pada 3 Agustus 2020, Tim Kerja dan PHDI Bali menerima aspirasi dan pernyataan sikap dari Forum Komunikasi Taksu Bali Dwipa, yang menolak keberadaan HK di Bali, dalam bentuk apa pun.

Mereka bahkan meminta Ketua Umum PHDI Pusat, Wisnu Bawa Tenaya datang langsung ke Bali menemui masyarakat yang minta HK dibubarkan dan dikeluarkan dari Hindu dan PHDI, bahkan dengan ancaman akan membentuk PHDI Bali versi mereka, didukung oleh Puri-puri seluruh Bali.

Himbauan turut ditandatangani oleh :

1.PHDI Kab. Tabanan–I Wayan Tontra, MDA Tabanan–I Wayan Sukadana (Petajuh)
2.PHDI Kab. Buleleng–I Gede Made Metera MDA Buleleng –I Dewa Putu Budarsa (Bendesa)
3.PHDI Kab. Jembrana–I Komang Arsana MDA Jembrana –I Nengah Subagia (Bendesa)
4.PHDI Kab. Bangli–I Nyoman Sukra, MDA Bangli — I Ketut Kayana (Bendesa)
5.PHDI Kab. Gianyar–I Nyoman Patra MDA Gianyar — AA Alit Asmara (Bendesa)
6.PHDI Kab. Badung–I Gde Rudia Adiputra, MDA Badung–I GA Ngurah Wiyadnyana (Bendesa)
7.PHDI Kota Denpasar–I Nyoman Kenak, MDA Tabanan–AA Ketut Sudiana(Bendesa)
8. PHDI Karangasem-Dr. Ni NengahRustini, MDA Karangasem, Wayan Artadipha.*BWN-03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: