Ringankan Beban Masyarakat, Pasemetonan Prapen Wesiaji Bagikan Sembako

UNTUK SESAMA – Paiketan Asu Ngulun dari Pesemetonan Wesiaji saat memberikan bantuan kepada seorang lansia di kawasan Denpasar Utara, Selasa (12/5).

Denpasar, baliwakenews.com

PDAM

Pandemi Covid-19 masih menjadi masalah besar bagi masyarakat saat ini. Semua aspek kehidupan ikut terpengaruh dengan dahsyat. Tidak hanya para pengusaha yang harus berusaha banting tulang dari nol kembali, namun yang terdampak besar adalah masyarakat kurang mampu yang menjerit lebih keras. Mirisnya lagi, tidak semua dari mereka beruntung mendapat sumbangan dari pemerintah. Mereka pun harus berjibaku mengalahkan rasa lapar dan beban kehidupan mereka.

Unwar

Sebuah komunitas yang lahir dari Pesemetonan Prapen Wesiaji, Denpasar, merasa terketuk hatinya untuk saling membantu sesama. Dengan menamakan paiketan persadaraan mereka dengan nama,’’Asu Ngulun’’ mereka bergerak secara simultan dan langsung ke sasaran untuk ikut meringankan beban masyarakat kurang mampu dan beruntung tersebut.
Pemrakarsa kegiatan sosial ini, Made Pande Suardika, Selasa (12/5) lalu mengatakan, pesemetonan yang datang dari berbagai daerah di Bali serta di luar Bali, ingin memberikan satu wujud nyata untuk membantu sesama. Seberapa mampu mereka memberikan sumbangan, mereka kirim ke Prapen Wesiaji dan segera disalurkan kepada masyarakat.
‘’Kami ingin berbuat, rekan-rekan merasa walau bisa berbuat kecil. Namun, akan bermanfaat bagi mereka yang sangat membutuhkan,’’ papar Suardika yang akrab dipanggil Depande ini.
Seperti yang dilakukan pada Selasa (12/5), bersama pesemetonan Asu Ngulun ini, mereka langsung turun ke masyarakat yang kurang mampu yang didapat data dan identitasnya dari berbagai sumber. Ada sekitar 10 KK yang sangat membutuhkan yang lansung didatangi ke rumahnya.
Salah satunya adalah Nyoman Srinu (62) di Jalan A Yani Denpasar. Dia yang tinggal bersama anak bungsunya, ada di wilayah dekat bantaran sungai. Rumahnya yang sederhana, beralaskan semen dan bercampur tanah, sudah lama ditinggal suaminya. Dia harus berjuang menghidupi empat orang anak, dan terakhir salah satu anaknya pun menyusul suaminya menghadap sang pencipta.
‘’Saya sudah 18 tahun tinggal di rumah ini. Ngontrak. Saya berjualan ceper. Sejak Corona ini, harga ceper anjlok. Harga busung tinggi. Dapat untung 10 ribu – 15 ribu saja sudah syukur,’’ kata Srinu.
Lain dengan Wayan Besong (76), lansia ini bertahan hidup bersama anak dan cucunya di seputaran Kecamatan Denpasar Utara. Kondisi corona ini, membuat anak-anaknya harus bertahan hidup seadanya. ‘’Saya hanya tergantung sama anak saya. Karena kondisi Corona, tidak bisa ngomong apa-apa,’’ katanya.


Demikian juga dengan keluarga Made Kariasa (48). Mantan Satpam di salah satu pertokoan besar di Kuta ini, kini malah menderita stroke. Tidak bekerja dengan anak yang masih SMA, membuat istrnya harus membanting tulang. Buka warung di depan rumahnya yang sederhana, kini sudah jarang yang belanja. ‘’Tetangga di sekitar juga sama kondisinya. Jadi warung pun tidak banyak yang belanja. Modal sudah jadi pakai kebutuhan sehari-hari,’’ ujar istri Kariase, Ni Ketut Mahoni.
Upaya meringankan beban sesama yang dilakukan Paiketan Asu Ngulun ini, menjadi satu jalinan cerita, betapa masyarakat kecil sangat keras terdampak Covid-19 yang mewabah ini. Walau pemerintah mengatakan ada sumbangan untuk masyarakat kurang mampu, tapi tak semua masyarakat yang beruntung.
‘’Semoga apa yang kami lakukan, dengan tangan-tangan kecil kami. Kami ingin berbuat, paling tidak menggugah hati rekan-rekan yang lain yang masih beruntung, untuk memberikan bantuan sekecil apa pun itu, yang dapat meringankan beban sesama,’’ tanda Depande. BW-07

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: