Pondok Juwuk Legi, Wisata Alam di Balik Tangan Kreatif Weda Jagir

Denpasar, baliwakenews.com

PDAM


Dusun Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan berwajah baru. Pedalaman yang jauh dari bayang-bayang pariwisata itu kini sedang gencar mengenalkan kecantikan alam, yang akan dijadikan sebagai daya tarik wisata.


Perubahan itu lahir dari tangan kreatif pengusaha muda, I Gede Agus Weda Wiguna. Sejak sepuluh tahun silam, pria yang karib disapa Jagir ini menata sebidang lahan belantara dan membangun sejumlah akses jalan. Pondasi yang pertama ia tanam adalah mengajak masyarakat merawat kebersihan alam.

Unwar


“Kami minta bantuan warga setempat untuk bersih-bersih. Bikin akses jalan, membersihkan belantara dari sampah plastik. Saya sangat anti alam itu dikotori plastik,” terangnya saat ditemui Kamis (28/5) di Denpasar.


Pria asal Desa Banyuatis, Buleleng ini juga telah berhasil membangun akomodasi wisata berupa pondok pegunungan Juwuk Legi, yang merupakan vila pertama di kawasan itu. Lahan luas di sekitar vila juga telah ditanami beragam bibit tanaman yang sesuai dengan iklim setempat.


“Saya juga melepas beberapa binatang di sana. Kebetulan saya pecinta binatang. Saya sempat sebar 10 kelinci, saat ini berkembang biak menjadi 200 ekor. Mereka cepat tumbuh karena hidup di alam bebas,” terang pria bertato ini.


Di lain tempat, hal serupa juga ia lakukan di daerah asalnya. Di Banyuatis, dia juga mengajak masyarakat untuk menjaga kebesihan lingkungan dari sampah plastik dan tidak berburu binatang. Menarik diri dari kepentingan pelestarian alam, ia memandang bahwa wisata alam cocok diterapkan Bali di era new normal.
“Akan ada saatnya wisatawan jenuh dengan objek wisata di kota, wisata alam akan menjadi pilihan. Namun, harus didasari komitmen untuk menjaga kelestarian alam,” ungkapnya. Wisata alam juga berkorelasi dengan sektor pertanian maupun perkebunan.


Di lahan yang ia tata, sirkulasi terjadi secara alami. Buah dan sayur yang dihasilkan dari alam menjadi sumber makanan bagi hewan yang dilepas. Hasil perkebunan juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Misalnya, kebutuhan buah untuk kepentingan yadnya.


Baginya, menjaga keterhubungan alam dan manusia adalah keniscayaan. “Sebetulnya rencana ini sudah lama, jauh sebelum Covid-19. Saat itu banyak yang menyebut saya kurang kerjaan karena membeli lahan yang dianggap tidak komersil,” tuturnya.


Pemetaannya pun tepat. Wisata alam yang ia konsep sejak lama juga menjadi skema yang akan diterapkan Pemerintah Provinsi Bali dalam rangka pemulihan perekonomian Bali melalui sektor pariwisata.


Hal tersebut sempat diungkapkan Wakim Gubernur Bali, Cokorda Artha Ardana Sukawati, belum lama berselang. Kata dia, dari pemetaan daya tarik wisata Bali, pariwisata budaya sebesar 65 persen, pariwisata alam 30 persen dan wisata buatan 5 persen.


Namun dengan adanya pandemi ini, kata dia, maka tidak mungkin untuk menampilkan budaya seperti tari-tarian dan beberapa pertunjukan lainnya. Untuk itu, Pemprov Bali akan mengedepankan daya tarik alam, dimana didalam alam juga terdapat nilai sasanah budaya yang dapat menarik hati para wisatawan.


“Nilai budaya bali yang menjiwai daya tarik lainnya masih relevan untuk dikembangkan. Untuk itu mari kita jadikan alam bali sebagai daya tarik pariwisata bali. Mari kita Back to nature : memadukan nilai kearifan lokal dengan protokol kesehatan,” ungkap Cok Ace. BW-06

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: