PKM FP Unwar Bina Kelompok Pengolah Ikan Mina Sari Sejahtera

Tim PKM FP Unwar saat memberi pelatihan kepada kelompok Pengolah Ikan Mina Sari Sejahtera

Denpasar, baliwakenews.com

Fakultas Pertanian, Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Warmadewa melaksanakan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan mitra Kelompok Pengolah Ikan Mina Sari Sejahtera di Banjar Lemodang, Desa Perancak Kecamatan Jembrana Kabupaten Jembrana. Dosen FP Unwar, Dr. Ni Made Ayu Suardani Singapurwa, STP.,M.Si, Sabtu (10/10) di kampus setempat mengatakan, pihaknya memberikan pelatihan teknologi pengolahan dan pengawetan hasil perikanan dengan cara pengolahan yang baik dan dengan sanitasi higiene yang baik.

Suardani mengatakan, PKM yang dibiayai oleh Rencana Kegiatan dan Anggaran Tahunan LPM Unwar, sesuai dengan Surat Kontrak Pelaksanaan Hibah Pengabdian No 51/UNWAR/LPM/PD-14/2020 tanggal 22 Juni 2020 tersebut menyasar Kelompok Pengolah Ikan Mina Sari Sejahtera karena kelompok memiliki kendala dalam pengolahan dan pemasaran.

Kegiatan yang dilakukan oleh Kelompok Dr. Ni Made Ayu Suardani Singapurwa, STP.,M.Si, Ir. I Putu Candra, MP, Ir I Nyoman Rudianta, M.Agb, dengan dibantu oleh 3 orang mahasiswa, I Putu Hardi Redita Putra, A. A. Sagung Manik Chindrawati, dan Ni Putu Chiana Adi Arandini, serta difasilitasi oleh PPL Desa Perancak, Ibu Ni Made Okaderti, atas seijin Bapak Kepala Desa Perancak I Nyoman Wijana tersebut diberikan pelatihan, penyuluhan serta pendampingan dengan penerapan teknologi tepat guna cara pengolahan yang baik serta sanitasi hygiene pada proses pengolahan pedetan ikan lemuru dan pembuatan pindang ikan tongkol, serta bantuan peralatan untuk pengolahan pedetan ikan lemuru dan pindang tongkol.

Kelompok beranggotakan10 orang ini memproduksi rata-rata 20-25 kg ikan mentah per hari, dengan omzet Rp150.000 – Rp250.000 per hari. Hasil olahan ikan yang telah diproduksi biasanya dipasarkan ke pasar-pasar di sekitar desa, sampai ke kecamatan Negara.

“Mitra juga kami berikan pengetahuan mengenai managemen kerja, managemen usaha, sehingga mampu mengatur waktu dan menjalankan usaha dengan sebaik mungkin, dengan demikian akan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga,” ucap Suardani.

Saat PKM, kelompok diberikan Teknologi Tepat Guna dalam pengolahan produk hasil perikanan, pengetahuan mengenai cara pengolahan yang baik (GMP), sanitasi dan higiene pengolahan (SSOP), dan manajemen usaha. Selain itu juga diberikan pengetahuan pembukuan dengan tertata dengan baik serta bantuan peralatan.

Dalam kegiatan pengabdian diberikan solusi pemberian bumbu Pedetan yang tepat, yang terdiri dari bawang putih, ketumbar, kencur, jahe, lengkuas, cuka dan garam, berdasarkan hasil penelitian, sehingga mampu bertahan dalam waktu selama 3 bulan bila dikemas dengan plastik mika, dan bertahan selama 6 bulan bila dikemas dengan cara vakum.

“Proses pemberian bumbu dengan campuran bumbu tersebut dapat mencegah tumbuhnya kapang Aspergillus sp. yang dapat mencemari pedetan ikan lemuru selama penyimpanan. Penjemuran pedetan ikan lemuru dengan alat penjemur menyerupai rumah kaca dapat mencegah kontaminasi seperti debu dan serangga yang dapat sebagai media kontaminan yang dapat mempercepat kerusakan pedetan ikan lemuru,” paparnya.

Untuk produk pindang tongkol yang diproduksi, disarankan dilakukan proses perebusan dengan penambahan beberapa bumbu seperti lengkuas, daun salam, daun pandan, kunyit dan asam yang dapat meningkatkan rasa dan aroma pindang, agar lebih disukai oleh konsumen, sehingga dapat meningkatkan penjualan.

Kelompok pengolah diberikan pengetahuan tahap pengolahan dari penerimaan bahan baku, sortasi, pembersihan, pencucian ikan, penirisan ikan, pembuatan dan pemberian bumbu, penjemuran, pengemasan serta penyimpanan. Untuk sanitasi dan hygiene pada proses pengolahan, kelompok diberikan pengetahuan pemilihan air dan es untuk pengolahan. Ruang, alat dan perlengkapan kerja, termasuk penggunaan pakaian kerja, apron, sarung tangan, penutup rambur, serta masker. Kelompok juga diberi pengetahuan menghindari kontaminasi silang terhadap produk dan kontaminasi dari bahan berbahaya, pengolahan limbah hasil pengolahan, tata letak ruang pengolahan, serta ketersediaan fasilitas hygiene pekerja.

“PKM ini memberikan dampak pada peningkatan omzet meningkat dari Rp 1 juta per minggu menjadi Rp 3 juta per minggu. Peningkatan kuantitas dan kualitas produk, serta peningkatan pemahaman dan keterampilan mengenai cara pengolahan yang baik (GMP), sanitasi dan higiene pengolahan (SSOP), kewirausahaan dan manajemen usaha,” pungkasnya.*BWN-03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: