Pengembangan Pertanian Terkendala Modal dan Lahan, Golkar Janji Perjuangkan Anggaran

Denpasar, baliwakenews.com

PDAM

Mendukung pembangunan Bali di era tatanan hidup baru, Partai Golkar berupaya menawarkan pengembangan sektor pertanian modern. Konsep modern yang dimaksud, yakni mengedepankan teknologi untuk menjawab tantangan jaman.

Pengembangan pertanian modern dibahas rinci dalam webinar yang diselenggarakan DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Selasa (30/6), bertajuk “Strategi Operasional Pembangunan Sektor Pertanian dan Pariwisata Bali di Era New Normal”.

Unwar

Dalam kesempatan itu, hadir sejumlah pakar, akademisi dan praktisi pertanian dan peternakan lokal Bali, salah satunya akademisi Fakultas Pertanian Iniversitas Udayana, Prof. Dr. Ir. I Nyoman Rai, M.S.

Menurutnya, ada dua kendala besar yang dihadapi dalam mengembangkan pertanian, yakni keterbatasan modal sebesar 54 persen dan keterbatasan luasan lahan pertanian yang mempengaruhi hingga 30 persen. Kendala berikutnya, berupa keterbatasan pemasaran, keterbatasan akses ke sarana produksi.

“Selain itu butuh reformulasi berbasis big data karena data pertanian belum dibangun secara holistik,” ujar Prof. Rai. Untuk mengembangkan pertanian, menurutnya juga diperlukan untuk merubah pola pandang terhadap sektor pertanian.

Sebab, menurutnya, pertanian masih dipandang sebagai pekerjaan yang kumuh dan tak punya masa depan. Maka seiring dengan tuntutan keadaan, justru pola pandang tersebut menurutnya harus di Balik. “Perlu perubahan mainset masyarakat Bali, pertanian itu keren, dan MaDeCer (masa depan cerah),” ungkapnya.

Menuju hal tersebut, perlu dikembangkan pertanian milenial, yang mengedepankan pengelolaan dengan teknologi masa kini, atau lebih dikenal pertanian moderen, dimana semua tahapan dapat diefektifkan dalam berupa waktu dan tenaga yang diperlukan.

Kata dia, kelebihan pertanian moderen meliputi tidak butuh banyak tenaga; menghemat waktu biaya olah tanah; panen dari 25 hari menjadi tiga jam; menekan biaya olah tanah, tanam dan panen hingga 30 persen; provitas meningkat 30 persen.

“Urban farming juga penting, dan perlu disiapkan regulasi terkait urban farming. Dengan metode ini, lingkungan segar, dekat dengan konsumen, dan bisa dibisniskan,” ujarnya. Sementaa, ketergantungan ekonomi Bali terhadap sektor pariwisata justru dipandang salah kaprah.

Pandangan itu disampaikan Anak Agung Gede Agung Wedhatama. Jika ingin pariwisata kuat, kata dia, maka sinergi dengan sektor pertanian dan perternakan justru niscaya. Ketua Komunitas Petani Muda Keren (PMK) ini memandang, pertanian merupakan sektor yang tidak ada matinya.

Hal itu terbukti ketika Bali menghadapi pandemi Covid-19, dimana pertanian menjadi pilihan memenuhi kebutuhan pokok. Bahkan dia tak setuju bahwa anjloknya pariwisata membuat pertanian anjlok. “Justru harus dibalik, pertanian bagus, pariwisata pun ikut maju,” ujar Gung Weda.

Semangat pembangunan Bali melalui sektor pertanian dinilai gayung bersambut oleh Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Nyoman Sugawa Korry. Dia mengapresiasi pemikiran para pakar dan pelaku pertanian untuk berperan.

Dia mengatakan, harapan besar kesimpulan webinar ini dapat menyempurnakan pembangunan di Bali. “Kita dalam rangka membangun struktur ekonomi seimbang antara primer, sekunder dan tersier, maka kita tidak perlu mempertentangkan pertanian dan pariwista. Justru harus disinergikan,” ungkapnya.

Bentuk sinergi itu dapat melibatkan peran Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta untuk ikut membentuk petani muda yang berjiwa wirausaha. Sienrgi ini, kata Sugawa, juga telah dibahas dalam webinar sebelumnya.

Ia mengatakan sinergi itu diupayakan dapat dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). “Kita sepakat memperkuat sektor pertanian ini dengan mendorong peranan tenaga penyuluh. Serta mengembangkan APBD yang hanya 2 persen, kita perjuangkan menjadi 5 persen,” ungkapnya. BW-06

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: