Mengintip Pengalaman Unik Para Psikolog Selama Pademi Corona

Nena Mawar Sari S.Psi,

Denpasar, baliwakenews.com

Mendengar profesi psikolog, umumnya akan menggiring pikiran kita kepada sosok para medis yang paham segalanya persoalan kejiwaan manusia. Mereka juga kerap disebut pahlawan mental. Di Bali, keberadaan psikolog cukup banyak. Namun tak sebanyak orang yang memanfaatkan jasa ini sebagai solusi dari persoalan kejiwaan. Ya, psikolog adalah orang yang mempelajari kejiwaan manusia, mereka dekat dengan orang yang mengalami persoalan kejiwaan seperti phobia, kecemasan, somatosasi, insomnia, depresi dan banyak persoalan kejiwaan lainnya.

Contoh tadi ternyata banyak dialami masyarakat, di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19. Nena Mawar Sari S.Psi,Psikolog Cht yang salah satunya menyatakan hal tersebut. Psikolog Klinis di Denpasar Mental Health Centre ini mengatakan, jumlah masyarakat yang berkonsultasi meningkat hingga 70 persen. Sebagian besar, mereka adalah orang yang yg harus di rumah, namun masalah sehari-hari trigernya (pemicu amarah) adalah orang rumah. Lalu sebagian lagi, mereka yang cemas terhadap Covid-19 dan dampaknya seperti anjloknya ekonomi.

Mengingat pemicunya beragam, kondisi mental pasien pun beragam. Sehingga penanganan masalah kejiwaan terhadap masing-masing individu tidak dapat dilakukan dengan cara sama, sebab disesuaikan dengan karakter pasien. “Beda-beda, tergantung karakternya. Ada yang bisa menerima masukan, ada yang harus diprioritaskan, ada juga yang ngeyel. Serta banyak lagi karakter yang lain,” ungkap psikolog asal Denpasar ini. Ditanya, apakah psikolog dapat mengetahui semua kondisi kejiwaan seseorang? Ia berkelakar dengan menjawab bahwa psikolog bukan dukun.

Menjelaskan jawaban tadi, Nena yang telah menekuni dunia piskolog sejak 13 tahun lalu ini, mengatakan bahwa semua penanganan pasien yang berkonsultasi harus berdasarkan penilaian, sehingga seorang psikolog dapat mengategorikan masalah kejiwaan dan metode penyembuhan. “Kita bisa juga lakukan psikoterapi kepada pasien atau klien, apabila kondisi sudah mengganggu fungsi keseharian, seperti mengganggu tidur, emosi dan pola makan,” terang Nena. Bukan tanpa kisah unik, Nena mengakui punya segudang pengalaman menarik selama menekuni profesi psikolog.

“Saat kita sendiri sedang tidak baik-baik saja, tapi dibutuhkan oleh klien. Atau saat klien jadi baper (terbawa perasaan),” jawabnya sembari tersenyum kesal. Didesak menceritakan klien yang baper, Nena mengatakan bahwa ada beberapa pasien yang malah terbawa perasaan ketika konsultasi. “Karena sebagai terapis, kadang kita memperhatikan, menasehati dan lain-lain. Jadi mereka ada yang menganggap perhatian secara personal, padahal tidak seperti itu,” terang Nena. Kendati persoalan yang dihadapi tidaklah mudah, Nena mengakui tetap nyaman menekuni profesi psikolog.

Meningkatnya masyarakat yang berkonsultasi sejak kemunculan Covid-19 juga dialami Hari Imam Wahyudi, S.Psi., Psikolog. Pendiri Dian Selaras Layanan Psikologi dan Hipnoterapi juga menyediakan layanan dalam jaringan (daring). “Ada (peningkatan), namun belum banyak masyarakat yang menghubungi berkaitan dengan Covid-19, yang saat ini menghubungi lebih kepada permasalahan pribadi dan kami menawarkan untuk konseling video call,” ujar pria asal Batu, Malang yang menetap di Denpasar ini. Kendati berlangsung secara daring, praktiknya tetap mengacu kode etik.

Secara kodek etik, kata dia, psikolog tidak boleh membuka permasalahan-permasalahan pasien kepada orang atau keluarga dekatnya tanpa persetujuan klien. Hal-hal tersebut biasanya akan disampaikan pertama kali ketika pasien bertemu dengan psikolog dengan mengisi formulir. Soal pengalaman menarik, ia mengatakan yang menjadi tantangan adalah ketika klien yang dipaksa oleh keluarga untuk konseling dan klien merasa tidak harus datang ke psikolog karena merasa tidak perlu. Sehingga proses penanganan lebih lama karena butuh pendekatan yang lebih intens.

Pengalaman lainnya, yakni ketika menangani pasien berusia anak-anak. Kata dia, tantangannya adalah bagaimana kita bisa diterima oleh mereka terlebih dahulu, dan kita harus bisa menjadi teman bermain yang mengasyikkan untuk mereka. “Dalam melakukan asesmen psikologi terhadap klien, kita harus juga memahami tentang kompetensi kita, apabila merasa kurang kompeten dalam hal ini, biasanya saya akan mereferesikan kepada rekan sejawat lain yang kompeten dalam permasalahan klien tersebut,” terang Imam.

Sama dengan Nena, Imam juga tidak menemukan alasan untuk meninggalkan dunia psikolog. Apalagi Imam, yang merupakan penikmat seni lukis. Setelah menggeluti dunia psikologi secara langsung, menurutnya psikologi adalah seni. Seni membantu manusia untuk kembali menjadi sehat secara mental, dan seni bagaimana memahami manusia yang dinamis. “Saya mengibaratkan manusia itu adalah seperti lukisan hidup, bagaimana mereka melukis dirinya dengan menggunakan potensi-potensi yang dimiliki dan mengenal potensi-potensi tersebut,” pungkas Imam. BW-06

Hari Imam Wahyudi, S.Psi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: