Mandi Harus Telanjang Bulat, Kesakralan Pancoran Solas Pura Beji Taman Sari Sangeh

Beji Pura Taman Sari Desa Adat Sangeh

Sangeh, baliwakenews.com

Dibalik keindahan objek wisata alas pala dengan suasana ratusan pohon pala yang rimbun dan ratusan binatang primata, ternyata didalam kawasan objek wisata tersebut menyimpan fenomena kramat dan amat disucikan oleh warga setempat. Ada sejumlah pura dan beji yang cukup sakral di objek wisata alas pala tersebut diataranya Pura Beji Taman Sari dan Pura Pucak Sari. Dua kawasan suci tersebut memiliki keunikan masing-masing, di Pura Beji Taman Sari terdapat sejumlah pancoran untuk melakukan pemelukatan serta nunas tirta untuk kegiatan upacara sementara di Pura Pucak Sari terdapat sejumlah ratusan pohon karma dan pura tersebut sudah berdiri pada abad ke 11 masehi.

Bendesa Adat Sangeh, Ida Bagus Sunarta didampingi Wakil Bendesa Baga Parahiangan, Wayan Nasib mengatakan, percaya tidak percaya ada tua pura sakral di kawasan objek wisata sangeh ini dan semuanya sudah berdiri sejak lama. Untuk di Pura Beji Taman Sari ada fenomena unik terjadi disana da nada aturan unik jika masyarakat ingin melakukan pengelukatan di beji tersebut. “ Disana Ada 11 pancoran yang tergabung menjadi satu dan bagi masyarakat ingin melakukan pemelukatan di pancoran beji tersebut harus benar-benar telanjang bulat, tidak boleh berbusana,”ujarnya.

Pura Taman Sari Desa Adat Sangeh

Lebih lanjut dikatakan, selain itu jika ada yang cuntaka atau kesebelan tidak boleh masuk ke beji atau melukat di beji tersebut karena ada sanki yang harus dilakukan oleh Desa Adat jika ada masyarakat melanggar ketentuan yang telah disepakati turun temurun tersebut. ”Jika itu dilanggar kami akan membuat upacara yang cukup besar untuk mengembalikan kesucian beji tersebut. Pernah suatu hari ada yang melukat menggunakan pakaian malah air beji nya enyat (kering) tidak mau keluar airnya dan kita pun harus membuat upacara khusus lagi untuk mengembalikan keberadaan mata air di beji tersebut,”paparnya sembari mengatakan, piodalan di pura tersebut pada Buda Umanis ,Kulantir tepatnya pada 60 hari sebelum hari raya Galungan.

Hal senada juga dikatakan Wayan Nasib, beji ini memang sangat disakralkan oleh karma Desa Adat Sangeh. Bahkan jika jodoh orang yang mencari obat dengan mandi dipancoran beji tersebut bisa sembuh. “Ada beberapa orang mengaku ke titiang, ada jodoh nunas tamba di beji niki. Saat itu orang tersebut nunas tamba karena sakit mata dan setelah membasuh kan air beji tersebut ke muka dan mata, berangsur-angsur penglihatannya membaik. Selain itu ada juga cerita masyarakat yang nunas tamba karena sakit cacar , setelah mandi di beji tersebut sembuh,”terangnya sebari menambahkan Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta sebelum menjadi bupati juga sempat tangkil ke Pura Beji Taman Sari ini untuk memohon restu untukmaju dalam Pilkada lalu.

Pengumuman tatacara melukat di beji Pura Taman Sari

Sementara di Pura Puncak Sari ditengah hutan pohon karma (alas pala), kata Ida Bagus Sunarta juga memiliki cerita sakral dan unik pula. “Jika ada sesuhunan dari Puncak Padang Dawa, Puncak Kembar harus wajib simpang dulu ke Pura Pucak sari di Desa Adat Sangeh ini. Kalau tidak siampang di pura tersebut ada hal-hal mistis yang terjadi saat kembali ke masing masing sesuhunan pura yang disungsung tersebut. Ada yang kerahuhan, ada yang jalannya berat dan ada yang saat melintasi pura namun tidak simpang, sehuhunan pelawata ida bhatara kembali ke Pura Pucak Sari,”cerita Bendesa yang juga anggota DPRD Kabupaten Badung tersebut.

Pohon Kembang Rijasa Yang Tak Bisa Digeser

Tidak hanya di Pancoran solas Pura Beji Taman Sari yang terkesan mistis dan sakral , sebelum menuju kawasan pura, ada sebuah pohon kembang rijasa yang juga cukup mistis. Pohon bertuah dan berumur puluhan tahun tersebut ternyata memiliki kisah mistis nyata yang dilihat masyarakat Desa Adat Sangeh. Pohon tersebut tidak bisa ditebang dan dipindahkan ketika ada proyek pengerjaan jalan keluar objek wisata sangeh tersebut. “Ya, hampir sebagian besar masyarakat di Desa Adat Sangeh tahu pohon dengat Pura Taman sari ini sangat sakral. Ada sejumlah buruh proyek yang ingin memindah pohon tersebut untuk memperlebar jalan, tapi banyak hal mistis terjadi dan akhirnya struktur jalan yang kita rubah yakni buat jalan yang agak berbelok, tanpa harus menebang atau memindah pohon tua tersebut,”ungkap Sunarta.

Pohon Kembang Rijasa yang disakralkan oleh krama Desa Adat Sangeh

Hingga saat ini, kata Sunarta pohon tersebut tetap kokoh dan masyarakat yang melintasi jalan di kawasan Pura Beji Taman sari pasti menghaturkan sesajen berupa canang sari. “Percaya atau tidak percaya kita selaku umat hindu di Bali tetap mempercayai konsep pemeliharaan alam. Yakni Konsep Tri Hita Karana yakni memelihara hubungan dengan tuhan, amlam dan sesama mahluk hidup yang ada di alam semesta ini,”tegasnya. BW-05

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: