Kisah Pilu Dua Bocah di Mengwitani, Ditinggal Ibu Menikah di Saat Kehilangan Sang Ayah

Made Widiantara dan Ni Komang Sukma Dewi didampingi Kelian Dinas Pupuan I Made Sunarta.

Mangupura, baliwakenews.com

PDAM

Meski Badung terkenal memiliki pendapatan asli daerah yang tinggi di Bali, namun masih ada masyarakat yang perlu dibantu. Salah satunya kakak beradik di Desa mengwitani ini. Dua bersaudara Made Widiantara (19) dan Ni Komang Sukma Dewi (11), harus berjuang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka bekerja lantaran Ayahnya I Putu Sudiana sudah meninggal, sementara Ibunya Ni Wayan Diana telah memiliki kehidupan sendiri dengan keluarga barunya.

Pasangan kakak adik ini berasal dari Dinas Pupuan, Banjar Panca Dharma, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi. Mereka tinggal berdua di rumah sederhana peninggalan sang ayah. Syukur keduanya masih memiliki saudara yang selama ini telah banyak membantu.

Unwar

Kelian Dinas Pupuan I Made Sunarta, mengakui Made Widiantara dan Ni Komang Sukma Dewi, hanya tinggal berdua, setelah Ayahnya meninggal sekitar tahun 2013 dan ibunya menikah lagi selang beberapa tahun kemudian. “Jadi, sekarang hanya tinggal berdua. Punya kakak tapi mengalami gangguan jiwa dan sekarang harus keluar masuk rumah sakit jiwa,” ungkapnya, Selasa (30/6) kemarin.

Lebih lanjut dikatakan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Made Widiantara yang berstatus pelajar kelas XII di SMA Widia Brata Mengwi harus bekerja paruh waktu untuk mendapatkan penghasilan agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak hanya dirinya, melainkan juga adiknya. “Dia kerjanya bantu membersihkan warung, kerjanya dari sore setelah pulang sekolah. Namun penghasilannya tak menentu, kadang sebulan Rp 500 ribu,” terangnya.

Ni Komang Sukma Dewi sendiri yang kini masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) juga ikut membantu tetangganya membuat canang untuk dijual. Setiap membantu membuat canang Dia diberi upah Rp 10 ribu, cukup untuk kebutuhannya termasuk bekal sekolah. “Kalau untuk masalah makan sehari-hari bisa lah dari penghasilannya sendiri bekerja, termasuk ada juga bantuan dari kerabat dan dari desa. Hanya yang jadi masalah sekarang untuk biaya sekolah yang terus terang belum ada jalan keluar,” ungkapnya.

Menurut penuturan Sunarta, biaya sekolah Made Widiantara sudah nunggak sekitar dua tahun. Karena biaya sekolah sebesar Rp 400 ribu per bulan, dikali 24 bulan (2 tahun), maka sebesar Rp 9.600.000 tunggakan sekolah yang harus dibayar. “Pihak sekolah sebetulnya sudah memberikan dispensasi walau sudah nunggak dua tahun. Tapi bagaimanapun kan tetap harus dibayar. Kami harapkan pihak terkait, dari pemerintah atau dari dari manapun untuk bisa membantu,” harapnya.

Sementara ditemui di rumahnya, Made Widiantara, mengaku tak memiliki cukup uang untuk membayar tunggakan biaya sekolah tersebut. Upahnya bekerja di salah satu warung, sebagai tukang bersih-bersih, tidak cukup untuk membayar. Upah yang diterima rata-rata Rp 500 ribu per bulan hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. “Kalau untuk makan saja cukup. Tapi yang lain tidak cukup. Dalam waktu dekat ini kami juga masih mencari-cari tambahan untuk kegiatan upacara piodalan di rumah karena dirumah masih ada merajan sepeninggalan ayah,” paparnya.

Sementara adiknya Ni Komang Sukma Dewi yang masih kelas VI SD tersebut, mengakui juga terkadang ikut jualan canang di Pasar Desa Adat Mengwitani. “Saya kadang ikut jualan canang di pasar. Dan kadang dibantu bibi saya,” ujarnya. BW-05

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: