Minggu, 20 September 2020

Ditengah Wabah Corona, Penjualan Buku Lesu

Salah satu toko buku di Denpasar yang sepi pengunjung

Denpasar, baliwakenews.com
Sudah diketahui bersama, bahwa minat baca generasi muda saat ini sangat minim. Bahkan menyebut mereka alergi terhadap buku, seperti tidak berlebihan. Derasnya informasi melalui media sosial, semakin memperburuk kondisi tersebut karena generasi muda menjadi pasif terhadap informasi.
Selain perusahaan media masa, kondisi ini membangun kecemasan pengelola toko buku. “Gudang ilmu” ini mengalami kegalauan di tengah kemunculan Corona Virus Disease 2019. Dilema antara tetap buka, mengikuti jadwal yang ditetapkan Pemerintah Kota Denpasar atau ikut di rumah saja.
Toga Mas. Toko buku yang terletak di Jl. Hayam Wuruk, Tanjung Bungkak, Sumerta, Denpasar ini memilih tetap buka dengan mengikuti jadwal yang ditetapkan Pemkot Denpasar. Buka mulai pukul 10.00 wita hingga pukul 18.00 wita. Pengelola sangat konsisten mengikuti aturan ini, meski beberapa pelanggan mulai berdatangan pada lima menit sebelumnya, pintu toko tetap tertutup rapat. Sembari menunggu jam buka, nampak dari sela pintu toko, para pegawai sedang mempersiapkan toko dan diri untuk melayani pelanggan. Mulai dari bersih-bersih hingga menyalakan penerangan.
Dari pintu samping, seorang pegawai keluar membawa serok dan sapu berisikan sampah. “Tunggu sebentar pak, lagi lima menit saja,” ujar pegawai itu sembari tersenyum ramah, lalu kemudian tertunduk cemas. Ketika jam menunjukkan pukul 10.05, mereka pun membuka pintu dan mulai menyapa pelanggan. Di dalam, semua pegawai menerapkan protokol Covid-19. Mengenakan masker, menyediakan sanitasi tangan, dan tentunya menjaga jarak. Pegawai yang membuang sampah tadi juga ada di dalam, di bagian depan, tempat alat tulis. Dari gesture tubuhnya, dia punya jabatan di toko buku tersebut.
Disapa dengan pertanyaan dampak Covid-19 terhadap kunjungan pelannggan, ia menjawab dengan nada stabil dan mengiyakan pertanyaan tersebut. “Sepi, buka mulai jam 10.00, sampai jam 18.00,” ujarnya dengan gesture tubuh melayani pelanggan. Disambung dengan pernyataan bahwa selama di rumah, membaca buku salah satu pilihan orang untuk mengatasi kejenuhan. Ia tak sepakat, sebab tak banyak orang memilih membaca buku untuk mengisi waktu. Menurut dia, menurunnya kunjungan ke toko buku tempatnya bekerja, karena perkuliahan libur karena dialihkan dalam jaringan (daring).
Memang, pada satu jam awal buka, pengunjung yang masuk untuk melihat-lihat buku hanya lima orang. Beberapa pelanggan yang balik sebelum toko buka, sekitar tiga orang, sepertinya akan berkunjung pada sore hari. Tentu saja kondisi ini membuat pengelola dilema, dengan ribuan jumlah buku dan alat tulis, kunjungan dengan jumlah delapan orang, meskipun stabil, tentu sangat mengancam. Namun, para pengelola harus diberi apresiasi. Mereka tetap berupaya menyediakan ruang penyaluran ekspresi bagi mereka yang haus akan ilmu pengetahuan melalui membaca buku. BW-06

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: