Selasa, 22 September 2020

Ditanya Demo-demo Untuk Jatuhkan Jokowi Sudirta Sebut Tak Gampang Jatuhkan Presiden

Foto: Sosialisasi 4 Konsensus Kebangsaan MPR RI, I WAYAN SUDIRTA, SH, diselenggarakan secara ''offline'' dan ''online'' dengan total sekitar 150 orang peserta

Denpasar, baliwakenews.com

PDAM

Sosialisasi 4 Konsensus Kebangsaan yang juga dikenal sebagai 4 Pilar MPR RI oleh Anggota MPR RI, I Wayan Sudirta di Gedung PHDI Bali, berlangsung sangat menarik. Banyak peserta menanyakan tentang demo-demo yang minta Presiden Jokowi turun.

Dipandu oleh Putu Wirata Dwikora, dihadiri 150-an peserta ‘’offline’’ dan peserta virtual, Sudirta dihujani puluhan pertanyaan oleh 14 penanya ‘’offline’’ maupun ‘’virtual’’, yang selain di Bali, ada juga dari Jakarta, Bogor dan Mataram-Nusa Tenggara Barat.

Unwar

Setelah mendengar paparan dalam sosialisasi yang berlangsung dari pukul 09.30 sampai 13.00 wita tersebut, peserta pun mengajukan bertumpuk pertanyaan dan aspirasi. Luh Ernila, seorang pengacara dari Singaraja bicara tentang UU Cipta Tenaga Kerja, BPJS, RUU Haluan Ideologi Pancasila, yang ditanyakan juga oleh Muhidin Damiank dari Bogor. Beberapa penanya tertarik mendengar wacana tentang demo-demo serta diskusi tentang pemaksulan Presiden, yang sempat heboh.

Wayan Sudirta, yang juga dikenal sebagai pengacara Ahok, Ketua Tim Penasihat Hukum DPP PDI Perjuangan serta Ketua Tim Pembela Menkumham saat menghadapi gugatan HTI di PTUN Jakarta, dengan semangat menjawab dan menguraikan ilustrasi terhadap setiap pertanyaan. Bagaimana tentang demo-demo yang minta Presiden Jokowi turun, antara lain karena alasan adanya pandemi Covid19, perekonomian yang merosot di era pandemi, atau alasan yang tak ada hubungan seperti adanya RUU HIP yang didemo dan dituding sebagai susupan komunisme ke dalamnya.

‘’Wah, kalau soal pemaksulan presiden, itu sudah diatur dalam pasal 7 A dan 7 B UUD 1945. Syaratnya sangat berat dan tidak cukup hanya dengan aspirasi kelompok-kelompok yang tidak puas, tanpa alasan yang diatur konstitusi,’’ kata Sudirta. Kewenangannya ada di DPR, MPR dan MK.

Diharapan peserta dari beragam status seperti mahasiswa UNHI Denpasar, mahasiswa Fak. Hukum Univ. Atmajaya, Jogja, Ketua Ikatan Bidan Indonesia Prov. Bali, Kepala Desa di Karangasem, dosen, guru SMA, aktivis LSM, Pengurus PHDI di Bali, pengusaha, dan sejumlah advokat, Sudirta menegaskan hal tersebut.

‘’Dalam buku yang kami bagikan berkait 4 konsensus kebangsaan, nanti bisa dibaca untuk pemberhentian presiden, diatur dalam pasal 7A dan 7B . Kapan bisa diberhentikan di tengah jalan? Dalam pasal 7 A disebut, dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan Rakyat, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden,’’ paparnya.

Selanjutnya dalam pasal 7 B disebut pada ayat (1) Usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa, mengadili, dan memutus pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela; dan/atau pendapat bahwa Presiden dan/ atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.

Pasal 7 B ayat (2) Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum tersebut ataupun telah tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat. Di ayat (3) Pengajuan permintaan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Mahkamah Konstitusi hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

Dalam ayat (4) Mahkamah Konstitusi wajib memeriksa, mengadili, dan memutus dengan seadil-adilnya terhadap pendapat Dewan Perwakilan Rakyat tersebut paling lama sembilan puluh hari setelah permintaan Dewan Perwakilan Rakyat itu diterima oleh Mahkamah Konstitusi.

Lalu pada ayat (5) apabila Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela; dan/atau terbukti bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat menyelenggarakan sidang paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Pada ayat (6) Majelis Permusyawaratan Rakyat wajib menyelenggarakan sidang untuk memutuskan usul Dewan Perwakilan Rakyat tersebut paling lambat tiga puluh hari sejak Majelis Permusyawaratan Rakyat menerima usul tersebut.
Dan pada ayat (7) Keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden harus diambil dalam rapat paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir, setelah Presiden dan/atau Wakil Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat.

‘’Nah, kalau Saudara menyimak pasal 7 A dan 7 B UUD 1945, apakah ada alasan untuk meminta Presiden Jokowi turun? Pasti tidak ada, dan demo-demo untuk minta Presiden Jokowi turun itu, ya silakan sebagai aspirasi, tapi posisi Presiden dalam sistem presidensiil seperti ini memang sangat kuat. Lagi pula, dari segi kinerja dan keberpihakan kepada rakyat, berdasarkan alokasi anggaran misalnya, dengan keberanian memotong subsidi BBM sebesar Rp 300 triliun, yang kemudian dialokasikan untuk menyamakan harga BBM sampai di Papua, lalu pembangunan infrastruktur, itu memang nyata. Hanya, memang pemerintah harus kita dorong untuk meningkatkan anggaran bidang pendidikan dan kesehatan,’’ lanjut Sudirta.

Yang unik dari kegiatan tersebut, para peserta sepakat membentuk Ikatan Alumni Peserta Sosialisasi 4 Pilar MPR RI tanggal 4 Juli 2020, dengan ketua Wayan Suyadnya seorang wartawan senior dan Sekretaris Dewa Gde Dharma Permana, mahasiswa UNHI Gusti Bagus Sugriwa. Ikatan Alumni ini disepakati menjadi organisasi untuk menyalurkan aspirasi masyarakat ke DPR RI, dan berbagai kegiatan lain yang berguna.*BW-09

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: