De Bawa Ngaku Nyaman Bersolo Karir, Bagaimana Nasib Lolot Band?

Denpasar, baliwakenews.com

MADE Bawa, sosok vokalis grup musik Lolot mengaku nyaman bersolo karir dengan bendera “D’Tandung Project”. Format ini sudah ia garap sejak 2018 lalu, dan telah memiliki album bertajuk “Enteg Ngelinggihin Hati”. Dalam waktu dekat, pengoleksi tato ini mengaku akan mengenalkan lagu baru yang merupakan hasil kolaborasinya bersama Bobi SID band.

Lalu bagaiamana nasib kelangsungan Lolot Band? “Tidak ada pisah antara saya dan Lolot Band, ini karena soal lagu saja. Supaya tidak benturan karena idealisme saya,” ungkap pria yang gemar mengenakan topi Cowboy ini. Bagi Bawa, D’Tandung merupakan medium untuk bereksperimen dengan aliran-aliran musik yang ia inginkan, sesuai inspirasi dan pengalaman.

Apakah Lolot Band tak lagi mampu menampung selera musiknya? Bawa tak langsung menjawab. Ia menyebutkan, keputusannya membangun D’Tandung merupakan upaya menjaga karakter Lolot yang telah dikenal band beraliran rock alternatif. Tujuan baik itu, kata dia, disambut biasa saja oleh personel lain, karena telah melakukan hal sama sebelumnya.

Sebut saja, Lanang yang berposisi pemain basa Lolot punya formasi solo dengan “Mr. Botax”. Donnie Lesmana, pemain gitar dan Hendra pemain drum Lolot Band punya akun YouTube sebagai media menyalurkan bakatnya. “Kami sepakat untuk mempersoalkan itu. Apalagi, kami tidak muda lagi, harus tidak lagi masanya bermain-main,” ujar pecinta mobil tua ini.

Apa beda D’Tandung dengan Lolot Band dari aliran musik? Musisi ramah ini mengatakan musik dalam D’Tandung sangat beda dengan Lolot, sebab ini merupakan mediumnya bereksperimen menyalurkan idealisme. Dia menyebutkan aliran musik di D’Tandung amat dinamis, berubah menyesuaikan inspirasinya. Begitu juga dengan pasangan apabila dia berkolaborasi.

Salah satunya dia sempat berkolaborasi dengan John n The Jail Story, dalam lagu Keliwat Punya. Dalam kolaborasi ini, Bawa tampil dengan genre rockabilly. Jika tampil bersama Lolot, dia cenderung berpenampilan rocker. Karena ini adalah medium idealis, maka aliran musik tidak selalu mengikuti permintaan pasar. Namun selama ini, karyanya selalu diterima pasar.

“Bisa saja saya masukkan unsur elektro dalam musik di D’Tandung, tekno atau DJ yang karakter musiknya lebih modern. Di Lolot, unsur itu tidak bisa masuk. Jadi saya lebih merdeka, tidak ada batasan dalam berkarya,” ungkapnya. Alasan unik lain yang membuatnya membangun D’Tandung, yakni untuk memberi pilihan harga lebih terjangkau kepada penggemarnya.

Sehingga banyak diminati untuk mengisi kegiatan berskala kecil dan sedang. Misalnya bazzar sekolah, pernikahan atau perayaan ulang tahun. Bagaiamana memposisikan diri sebagai D’Tandung dan Lolot ketika menerima tawaran manggung? Bawa tegas mengatakan bahwa dia tetap mengutamakan jadwal manggung untuk Lolot Band.

“Band Lolot tidak boleh diganggu gugat, job lebih mengutamakan band asal tidak tabrakan,” ungkapnya. Ditanya soal harga, Bawa tak menyebut nominal. Dia hanya bilang bajet D’Tandung hanya 50 persen dari harga Lolot Band. Ia menambahkan, D’Tandung berdiri di posisi sebagai musisi yang haus akan kreatitifas. Tidak semata dalam ambisi jual dan beli. BW-06

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: