Bali Perlu Pasar Induk, Putus Rantai Distribusi

Ir. Dewa Nyoman Sadguna, M.Agb

Denpasar, baliwakenews.com

PDAM

Pertanian adalah sektor yang tidak pernah jenuh menyerap tenaga kerja (naker) sehingga setiap kali terjadi persoalan di sektor pariwisata maka pertanian menjadi pilihan banyak orang. Demikian dikatakan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa (Unwar), Ir. Dewa Nyoman Sadguna, M.Agb., Kamis (4/6), Denpasar.

Meski demikian dikatakan Dewa Sadguna, pertanian di Bali yang masih menggunakan pola tradisional harus segera dimodernisasi. ” Terutama penjualan hasil produksinya. Yang petani lakukan selama ini hanya memproduksi, dan setelah panen, mereka tidak bisa membuat nilai tawar produk yang dihasilkan akibat minin informasi,” paparnya.

Unwar

Penguasaan teknologi juga masih lemah, belum lagi rantai distribusi yang panjang serta ‘dipermainkan’ oleh tengkulak ‘nakal’.

Dengan kemajuan teknologi saat ini sistem penjualan online perlu digenjot. Peran seluruh stakeholder untuk mengedukasi petani tradisional, sangat dibutuhkan. “Kami telah melakukan pendampingan terhadap kelompok petani yang tersebar di seluruh Bali,” ungkapnya.

Namun yang sangat mendesak saat ini, menurut Dewa Sadguna, Bali harus memiliki sebuah pasar induk. Pasar induk untuk menampung seluruh hasil pertanian dari sembilan kabupaten/kota. Pasar ini untuk memutus rantai distribusi yang terlampau panjang dan cenderung merugikan petani. “Para petani langsung menjual barangnya di pasar induk itu, jadi tidak melalui tengkulak dan rantai distribusi,” tukasnya.

Terkait Pergub 99/2018 tentang Pemanfaatan Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali, ia menyebut belum berjalan maksimal. Mengingat kualitas produk Bali belum mampu mengungguli produk impor. “Menghadapi era new normal, saya berharap para petani Bali bergandengan tangan untuk menciptakan produk yang layak ekspor,” pungkasnya.*BW-09

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: